Rabu, 10 Februari 2027
Rabu Abu
Hari RayaBacaan Misa
Hari ini didaraskan Kemuliaan dan Aku Percaya.
Bacaan Pertama Yoel 2:12-18
"Tetapi sekarang juga," demikianlah firman TUHAN, "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh." Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu. Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah penganten laki-laki keluar dari kamarnya, dan penganten perempuan dari kamar tidurnya; baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: "Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?" TUHAN menjadi cemburu karena tanah-Nya, dan Ia belas kasihan kepada umat-Nya.
Mazmur Tanggapan Mazmur 51:3-6,12-14,17
Bacaan Kedua 2 Korintus 5:20-6:2
Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima. Sebab Allah berfirman: "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau." Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.
Bacaan Injil Matius 6:1-6,16-18
"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."
Renungan
Koyakkan Hatimu
Petani tahu rahasia abu. Jerami sisa panen dibakar, abunya ditebar kembali ke sawah, dan tanah menjadi subur. Yang tampak seperti akhir ternyata bahan awal kehidupan baru. Barangkali itu sebabnya Gereja memilih abu, bukan lencana, untuk membuka masa Prapaskah.
Hari ini dahi kita ditandai abu. Kalimat pengiringnya tidak ada yang manis: bertobatlah dan percayalah kepada Injil. Atau yang lebih tua: ingatlah, engkau debu dan akan kembali menjadi debu. Sekali setahun Gereja menyuruh kita menatap kenyataan yang paling sering kita hindari: kita fana.
Tetapi nabi Yoel buru-buru memasang rambu supaya kita tidak salah arah: koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu. Pada zaman itu orang berkabung dengan merobek baju. Robekan baju bisa dilihat semua orang; robekan hati hanya dilihat Allah. Upacara paling khusyuk pun bisa kosong kalau hatinya utuh tidak tersentuh, masih sekeras kemarin. Allah tidak bisa dikelabui oleh kain yang robek.
Injil hari ini menggemakan peringatan yang sama. Yesus membahas tiga latihan klasik: sedekah, doa, puasa. Ketiganya baik. Ketiganya juga bisa berubah menjadi panggung. Maka resep-Nya satu: kerjakanlah tersembunyi. Tangan kiri tidak perlu tahu urusan tangan kanan. Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya. Prapaskah adalah empat puluh hari melatih hidup yang tidak membutuhkan penonton. Bukan karena penonton itu jahat, melainkan karena tepuk tangan mereka cepat sekali menggantikan upah dari Bapa.
Kata tobat dalam bahasa Ibrani, shub, artinya sederhana: berbalik. Bukan pertama-tama menangis, bukan menyiksa diri, melainkan memutar arah jalan. Orang tersesat tidak ditolong oleh penyesalan yang panjang; ia ditolong oleh keputusan untuk berbalik. Dan Yoel memberi alasannya: berbaliklah kepada Tuhan, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Kita berani berbalik bukan karena kita kuat, melainkan karena yang menunggu di ujung jalan itu Dia. Yang menunggu bukan hakim dengan palu, melainkan Bapa dengan pelukan.
Paulus menambahkan nada mendesak: sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; hari ini adalah hari penyelamatan itu. Bukan besok. Bukan nanti kalau sempat. Hari ini.
Maka mari mulai dengan jujur. Empat puluh hari ke depan, apa satu hal yang sungguh perlu dibalik dalam hidup kita? Satu saja, tetapi dari hati.
Tuhan yang pengasih dan penyayang, koyakkanlah hatiku yang keras, dan tanamlah benih hidup baru di bekas abunya. Amin.
Invitatorium
RABU ABU PAGI
Pembukaan
Ant. Marilah kita menyembah Kristus Tuhan, yang digoda dan disiksa untuk kita.
MAZMUR 94 (95)
Ant. Marilah kita menyembah Kristus Tuhan, yang digoda dan disiksa untuk kita.
Ibadat Bacaan
Ibadat Bacaan untuk Rabu Abu
MADAH
Terang kemuliaan Bapa,
Ant. 1 Pujilah Tuhan, hai jiwaku; jangan pernah lupakan segala yang telah Ia lakukan bagimu.
Mazmur 103
Pujian atas belas kasihan Allah yang lembut
Dalam belas kasihan Allah kita yang lembut, fajar dari tempat tinggi akan menyinari kita (lihat Lukas 1:78).
Ant. Pujilah Tuhan, hai jiwaku; jangan pernah lupakan segala yang telah Ia lakukan bagimu.
Ant. 2 Seperti seorang bapa berlemah lembut kepada anak-anaknya, demikianlah Tuhan kepada mereka yang takut akan Dia.
Ant. Seperti seorang bapa berlemah lembut kepada anak-anaknya, demikianlah Tuhan kepada mereka yang takut akan Dia.
Ant. 3 Pujilah Tuhan, segala karya-Nya!
Ant. Pujilah Tuhan, segala karya-Nya!
BACAAN
RESPONSORIUM Yesaya 58:6, 7, 9; Matius 25:31, 34, 35
RESPONSORIUM Yes. 55:7; Yoel 2:13; lihat Yeh. 33:11
TE DEUM
DOA PENUTUP
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan komunal)
Ibadat Pagi
Madah
Ant.1: Hatiku siap sedia, ya Allah, hatiku siap sedia.
Mazmur 107 (108)
Ant.1: Hatiku siap sedia, ya Allah, hatiku siap sedia.
Ant.2: Tuhan mengenakan padaku dandanan keselamatan dan pakaian kebenaran.
Yes 61,10-62,5
Ant.2: Tuhan mengenakan padaku dandanan keselamatan dan pakaian kebenaran.
Ant.3: Aku hendak memuliakan Allahku seumur hidup.
Mazmur 145 (146)
Ant.3: Aku hendak memuliakan Allahku seumur hidup.
Bacaan Singkat: (Ul 7,6.8-9)
Ant.Kidung: Bila engkau berpuasa, jangan bermuka muram seperti orang munafik.
KIDUNG ZAKARIA (Luk 1,68-79)
Ant.Kidung: Bila engkau berpuasa, jangan bermuka muram seperti orang munafik.
Doa Permohonan:
Bapa Kami
Doa Penutup:
Ibadat Siang
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
RABU ABU SIANG
Madah
Ant.1: Aku berseru kepadaMu, ya Tuhan, aku berharap akan firmanMu.
Mazmur 118 (119),145-152
Ant.1: Aku berseru kepadaMu, ya Tuhan, aku berharap akan firmanMu.
Ant.2: Tuhan tahu bahwa pikiran manusia sia-sia belaka.
Mazmur 93 (94) I
Ant.2: Tuhan tahu bahwa pikiran manusia sia-sia belaka.
Ant.3: Tuhan menjadi pembelaku yang perkasa, dan Allahku menjadi pelindungku.
Mazmur 93 (94) II
Ant.3: Tuhan menjadi pembelaku yang perkasa, dan Allahku menjadi pelindungku.
Bacaan Singkat: (Yeh 18,30b-32)
Doa Penutup:
Ibadat Sore
RABU ABU SORE
MADAH
Ant.1: Terlalu ajaiblah bagiku pengetahuanMu, ya Tuhan.
Ant.1: Terlalu ajaiblah bagiku pengetahuanMu, ya Tuhan.
Ant.2: Aku, Tuhan, menyelidiki isi hati dan menguji sanubari. Aku menganugerahi setiap orang sesuai dengan hidupnya.
Mazmur 138 (139) - II
Ant.2: Aku, Tuhan, menyelidiki isi hati dan menguji sanubari. Aku menganugerahi setiap orang sesuai dengan hidupnya.
Ant.3: Dalam Kristus telah diciptakan segala sesuatu, dan segala sesuatu ada dalam Dia.
Kol 1,12-20
Ant.3: Dalam Kristus telah diciptakan segala sesuatu, dan segala sesuatu ada dalam Dia.
Bacaan Singkat: (Flp 2,12b-15a)
Ant.Kidung: Bila engkau memberi sedekah, janganlah tangan kirimu tahu apa yang dilakukan oleh tangan kananmu.
KIDUNG MARIA (Luk 1,46-5)
Ant.Kidung: Bila engkau memberi sedekah, janganlah tangan kirimu tahu apa yang dilakukan oleh tangan kananmu.
Doa Permohonan:
Bapa Kami
Doa Penutup:
Ibadat Penutup
IBADAT PENUTUP - RABU
Doa Tobat
Madah
Ant 1: Sudilah Engkau menjadi gunung pengungsian dan benteng pertahananku yang kuat.
Mazmur 30 (31),1-6
Ant 1: Sudilah Engkau menjadi gunung pengungsian dan benteng pertahananku yang kuat.
Ant.2: Dari jurang yang dalam aku berseru kepadaMu, ya Tuhan.
Mazmur 129 (130)
Ant.2: Dari jurang yang dalam aku berseru kepadaMu, ya Tuhan.
Bacaan singkat (Ef 4,26-27)
Ant.Kidung: Berkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon:
Ant.Kidung: Berkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Santo-Santa
S. Skolastika
Perawan · ± 480-543
Skolastika lahir sekitar tahun 480 di Nursia, Italia, dari keluarga bangsawan. Tradisi menyebutnya saudari kembar Santo Benediktus, bapa monastisisme Barat. Sejak masa mudanya ia membaktikan diri kepada Allah dan hidup sebagai perawan yang terbaktikan.
Ketika Benediktus mendirikan biaranya yang termasyhur di Monte Cassino, Skolastika menetap tak jauh dari sana, di Plombariola, dan memimpin sebuah biara para rubiah. Karena itu ia dihormati sebagai pendiri para rubiah Benediktin. Setahun sekali ia mengunjungi saudaranya, dan karena tidak boleh masuk ke dalam biara Benediktus, mereka bertemu di sebuah rumah tak jauh dari situ untuk berbincang tentang perkara-perkara rohani.
Kisah paling terkenal tentangnya terjadi pada pertemuan terakhir mereka. Ketika Benediktus hendak pulang, Skolastika, yang seakan merasa ajalnya sudah dekat, memintanya tinggal semalam lagi. Benediktus menolak, maka Skolastika menundukkan kepala dan berdoa. Seketika turun hujan badai hebat sehingga Benediktus tidak dapat pulang, dan mereka menghabiskan malam itu dalam percakapan rohani. Tiga hari kemudian Skolastika wafat, dan Benediktus melihat jiwanya naik ke surga dalam rupa seekor merpati. Ia wafat sekitar tahun 543.
Pelindung: para rubiah Benediktin, dan sering dimohonkan perlindungan terhadap badai dan hujan.
Santa Skolastika
Perawan, pendiri biarawati Benediktin · ± 480–543
Skolastika lahir di Nursia, Italia, dari keluarga berada, dan menurut tradisi adalah saudari kembar Santo Benediktus. Sejak muda ia membaktikan diri kepada Allah. Ketika Benediktus mendirikan biara di Monte Cassino, Skolastika menetap tak jauh dari sana di Plombariola dan memimpin sebuah biara perempuan, cikal bakal biarawati Benediktin.
Kisah yang paling dikenang adalah pertemuan terakhir mereka. Merasa ajalnya dekat, Skolastika memohon kakaknya tinggal semalam lagi untuk berbincang tentang hidup rohani. Benediktus menolak karena aturan biara. Skolastika lalu berdoa, dan seketika turun badai hebat sehingga Benediktus tak bisa pulang. Allah mendengarkan dia karena ia lebih mengasihi, tulis Paus Gregorius. Tiga hari kemudian Skolastika wafat; Benediktus melihat jiwanya naik ke surga sebagai merpati putih.
Pelindung: para biarawati Benediktin.
Santo Zenon
Pertapa
Zenon dikenal sebagai murid Santo Basilius Agung, dia adalah seorang perajurit rendah pada masa pemerintahan kaisar Maksimianus. Ia hidup sekitar tahun 350 -419. Atas dorongan rahmat Allah, ia sendiri meminta agar diberhentikan dari tugasnya sebagai seorang prajurit Romawi. Selanjutnya ia menjadi seorang pertapa di sebuah tempat sunyi dekat Antiokia, Syria selama 40 tahun.