Selasa, 8 Desember 2026
Di Manakah Engkau?
Anak kecil yang memecahkan gelas biasanya melakukan dua hal: bersembunyi, lalu menunjuk. Bukan aku, adik yang mulai. Sembunyi dan saling tuding itu bakat tua manusia. Umurnya setua taman Eden.
Bacaan pertama hari raya ini memutar adegan awalnya. Sesudah makan buah terlarang, manusia bersembunyi di antara pepohonan. Allah mencari sambil bertanya: di manakah engkau? Dan begitu ditemukan, keluarlah jurus tunjuk-menunjuk. Adam menunjuk Hawa, bahkan menyerempet Allah: perempuan yang Kautempatkan di sisiku. Hawa menunjuk ular. Tidak ada satu pun yang berani berkata: aku yang salah.
Namun di tengah kisah muram itu terselip janji yang oleh Gereja disebut kabar baik yang pertama: keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular. Kejatuhan tidak dibiarkan menjadi kata terakhir. Allah yang bertanya di manakah engkau ternyata bukan polisi yang mengejar, melainkan Bapa yang kehilangan, dan sudah menyusun jalan pulang.
Hari ini kita merayakan Maria yang dikandung tanpa noda: dijaga bersih dari dosa asal sejak awal keberadaannya. Bukan karena jasanya, melainkan karena rahmat, demi Anak yang kelak dikandungnya. Paulus menulis bahwa kita dipilih sebelum dunia dijadikan supaya kudus dan tak bercacat. Pada Maria, pilihan itu terlaksana penuh sejak detik pertama hidupnya.
Maka menarik membandingkan dua percakapan. Di Eden, Allah bertanya dan manusia bersembunyi. Di Nazaret, Allah menyapa lewat Gabriel dan seorang gadis desa tidak lari ke balik pohon. Maria terkejut, bertanya, tidak mengerti seluruhnya. Tetapi ia tetap berdiri di tempatnya sampai kalimat itu keluar: sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu.
Hawa lama menunjuk orang lain. Hawa baru menunjuk dirinya sendiri: inilah aku. Sejarah keselamatan berbelok pada berubahnya arah satu telunjuk.
Kita masih sering memainkan adegan Eden. Bersembunyi dari Allah di balik kesibukan. Menunjuk pasangan, orang tua, keadaan, zaman. Padahal pertanyaan lembut itu tidak pernah berhenti diajukan: di manakah engkau? Bukan karena Allah tidak tahu tempat kita bersembunyi, melainkan karena Ia menunggu kita sendiri yang keluar dan menampakkan diri.
Adven adalah waktu yang baik untuk keluar dari balik pepohonan. Berdiri seperti Maria. Menjawab dengan telunjuk yang diarahkan ke dada sendiri: inilah aku, Tuhan, dengan segala pecahan gelas yang pernah kubuat. Jadilah padaku menurut kehendak-Mu.
Tuhan, Engkau mencariku bahkan ketika aku bersembunyi. Bunda Maria yang dikandung tanpa noda, ajarilah aku menjawab seperti engkau menjawab. Amin.