Rabu, 9 Desember 2026
Menukar Pikulan
Perhatikanlah penjual bakso pikulan atau penjaja jamu gendong. Bebannya berat, tetapi mereka bisa berjalan jauh. Rahasianya bukan otot saja. Rahasianya pikulan yang pas di bahu. Pikulan yang salah ukuran membuat beban ringan pun terasa menyiksa.
Yesus hari ini memanggil semua yang letih lesu dan berbeban berat. Menariknya, Ia tidak berkata: mari, Kulepaskan semua bebanmu. Ia berkata: pikullah kuk yang Kupasang. Tetap ada kuk, tetap ada beban. Tetapi kuk yang dipasang-Nya enak dan beban-Nya ringan. Bukan karena hidup orang beriman bebas masalah, melainkan karena bebannya dipikul berdua dengan Dia yang lemah lembut dan rendah hati.
Yesaya berbicara kepada orang buangan yang kelelahan menunggu: orang muda pun bisa lelah dan tersandung, tetapi yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru, seumpama rajawali yang terbang naik dengan kekuatan sayapnya.
Banyak beban kita sebenarnya bukan dari Tuhan. Gengsi yang harus dijaga. Standar hidup tetangga yang dikejar. Dendam yang dipelihara bertahun-tahun. Itu kuk buatan sendiri, dan ukurannya tidak pernah pas.
Adven mengajak kita menukar pikulan. Menurunkan yang bukan dari Dia, lalu memikul yang dari Dia. Beranikah kita menukarnya hari ini?
Tuhan, kuturunkan beban buatanku sendiri. Pasanglah kuk-Mu di bahuku. Amin.