Minggu, 31 Mei 2026
Allah yang Datang Menghampiri
Hari Raya Tritunggal Mahakudus gampang terasa seperti soal matematika yang membingungkan. Tiga tapi satu, satu tapi tiga. Kita cenderung memperlakukannya sebagai teka-teki untuk dipecahkan, lalu menyerah. Padahal Tritunggal bukan rumus, melainkan kabar tentang siapa Allah itu: Ia relasi, Ia kasih yang mengalir, dan Ia selalu bergerak menghampiri.
Zefanya melukiskan Allah yang sama sekali tidak jauh: "TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita." Allah bukan penonton yang berjarak di langit. Ia berada di tengah, dan bahkan bersukacita atas umat-Nya. Coba bayangkan: Allah yang gembira karena kita.
Dan dalam Injil, "berada di tengah" itu mengambil bentuk yang nyata. Maria, yang baru mengandung Yesus, bergegas ke pegunungan mengunjungi Elisabet. Begitu salamnya terdengar, anak dalam rahim Elisabet melonjak, dan ia dipenuhi Roh Kudus. Lihat betapa penuhnya ruangan kecil itu: Bapa yang mengutus, Putra dalam rahim Maria, Roh yang memenuhi Elisabet. Tritunggal hadir bukan dalam diagram, melainkan dalam sebuah kunjungan antara dua perempuan yang sedang mengandung.
Inilah cara Allah bekerja. Ia datang menghampiri, lalu mendorong kita untuk saling menghampiri. Maria tidak menyimpan Yesus untuk dirinya sendiri. Ia membawa-Nya menyeberangi bukit, kepada saudarinya yang juga membutuhkan. Kehadiran Allah selalu bergerak keluar, tidak pernah mengurung diri.
Maria lalu menyanyikan Magnificat: "Jiwaku memuliakan Tuhan." Nyanyian itu jawaban atas Allah yang lebih dulu bersukacita atas dia, persis seperti nubuat Zefanya. Sukacita bersambut sukacita. Begitulah relasi Tritunggal meluber ke dalam hidup manusia.
Zefanya pun menulis kalimat penghiburan itu bukan di masa aman, melainkan sesudah berbicara panjang tentang hukuman. Justru kepada umat yang babak belur oleh dosanya sendiri, Allah berkata, "Janganlah takut... Aku ada di antaramu." Begitulah selalu cara Sang Tritunggal mendekat: bukan menunggu kita pantas lebih dulu, melainkan menghampiri saat kita masih penuh cela.
Maka merayakan Tritunggal bukan berarti memahami misteri sampai tuntas. Ia berarti membiarkan diri dihampiri oleh Allah yang adalah kasih, lalu bergegas menghampiri sesama, seperti Maria. Di bulan Mei yang kita persembahkan bagi Bunda ini, ia menjadi contoh paling jelas: orang yang penuh Allah selalu berjalan keluar menuju orang lain.
Siapa yang perlu kita hampiri hari ini, membawa serta kehadiran Allah yang tinggal di dalam kita?
Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus, Engkau kasih yang selalu menghampiri. Penuhilah aku, lalu utuslah aku bergegas menghampiri sesama. Amin.