Senin, 1 Juni 2026
Penggarap yang Lupa Diri
Orang yang lama menempati rumah kontrakan kadang lupa. Pagar dicat sesuai selera. Kamar ditambah. Lama-lama terasa seperti milik sendiri. Sampai suatu hari pemiliknya datang, dan kita malah tersinggung. Kok berani-beraninya dia masuk?
Perumpamaan hari ini persis tentang itu. Kebun anggur disewakan. Penggarapnya betah, lalu lupa diri. Utusan pemilik dipukul. Anak pemilik dibunuh. Logikanya sederhana dan mengerikan: kalau ahli waris mati, kebun jadi milik kita.
Kita mudah menggeleng pada penggarap itu. Tapi bukankah kita sering begitu? Tubuh, waktu, jabatan, anak-anak, semuanya titipan yang pelan-pelan kita rasa sebagai hak. Kita marah ketika Tuhan mengambil kembali apa yang memang milik-Nya.
Hari ini Gereja mengenang Santo Yustinus, filsuf yang mencari kebenaran dari satu aliran ke aliran lain, lalu menemukannya dalam Kristus. Ia tahu benar: kebenaran bukan miliknya. Ia hanya penggarap yang setia, dan ia menyerahkan nyawanya sebagai sewa yang pantas.
Petrus dalam bacaan pertama menyebut tangga: iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih. Tangga itu hanya bisa dinaiki orang yang sadar dirinya penyewa, bukan pemilik.
Apa yang hari ini masih kita genggam seolah milik kita sendiri?
Tuhan, kebun ini milik-Mu. Jadikan aku penggarap yang menyerahkan hasil pada waktunya. Amin.