Sabtu, 11 April 2026
Tak Bisa Diam
Ada kabar-kabar yang mustahil disimpan sendiri. Berita seorang cucu yang lahir, seorang anak yang lulus, seorang sakit keras yang tiba-tiba pulih, membuat mulut terasa gatal ingin bercerita. Kita menelepon, mampir ke rumah tetangga, menyampaikannya kepada siapa saja yang mau mendengar. Sukacita yang sejati memang selalu mencari jalan keluar; ia tidak betah dikurung di dalam dada.
Petrus dan Yohanes ditangkap, disidang di depan Mahkamah Agama, lalu diperintahkan dengan keras supaya sama sekali tidak berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus. Ancaman itu bukan main-main; orang-orang inilah yang beberapa pekan sebelumnya berhasil menyalibkan Guru mereka. Namun jawaban kedua rasul itu sederhana dan berani: silakan kalian putuskan sendiri, manakah yang benar di hadapan Allah, taat kepada kalian atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan kami dengar.
Perhatikan baik-baik alasan mereka. Mereka tidak berkata bahwa mereka wajib berbicara karena itu perintah atau tugas yang dibebankan kepada mereka. Mereka berkata bahwa mereka tidak mungkin diam. Ada tekanan yang mendesak dari dalam. Kabar bahwa Yesus yang mati kini hidup terlalu besar untuk dibendung oleh ancaman apa pun, bahkan ancaman penjara dan kematian sekalipun.
Dan itulah tepatnya yang diminta Tuhan yang bangkit dalam Injil hari ini. Ia menampakkan diri kepada kesebelas murid, mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, lalu berkata: pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Perintah agung yang terdengar berat itu sebenarnya ringan bagi hati yang sungguh bersukacita. Orang yang benar-benar mengalami kabar baik tidak perlu dipaksa membagikannya; ia hanya perlu diberi kesempatan.
Maka barangkali kesaksian kita yang sering tersendat dan malu-malu bukan pertama-tama soal kurang keberanian, melainkan soal kurang kegembiraan. Mungkin kita jarang bercerita tentang Yesus bukan karena takut ditolak, melainkan karena Ia belum menjadi kabar yang sungguh menggembirakan bagi kita sendiri. Sebab yang tidak menggembirakan hati memang gampang disimpan diam-diam.
Injil mencatat bahwa para murid mula-mula pun tidak langsung percaya pada kabar Maria dan kedua murid Emaus. Sukacita itu tumbuh perlahan sampai akhirnya tak tertahankan. Begitu pula kita boleh memohon agar Paskah kembali menjadi kabar yang membuat kita tak bisa diam.
Tuhan, jadikanlah kebangkitan-Mu sukacita yang tak sanggup kusimpan sendiri. Isilah hatiku sampai penuh, dan berilah aku mulut yang tak bisa diam tentang kebaikan-Mu. Amin.