Minggu, 12 April 2026
Pintu yang Terkunci
Rumah yang penghuninya sedang ketakutan mudah dikenali. Semua pintu digembok dari dalam, jendela ditutup rapat, lampu diredupkan. Ketakutan selalu berbentuk penguncian: menutup diri serapat mungkin, berharap yang menakutkan itu tidak bisa masuk. Sayangnya, tembok yang menahan bahaya juga sekaligus menahan pertolongan. Orang yang mengunci diri karena takut akhirnya juga terkunci dari kabar baik.
Minggu lalu kita berdiri di depan kubur kosong bersama Petrus dan murid yang dikasihi, dan mendengar bahwa mereka melihat lalu percaya. Hari ini kita masuk ke ruangan tempat para murid bersembunyi sesudah semua itu. Injil mencatatnya dengan jujur: pintu-pintu terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Kebangkitan sudah terjadi, kabarnya sudah sampai, tetapi hati mereka masih terkunci oleh ketakutan. Percaya di kepala belum tentu langsung membuka gerendel di hati.
Lalu terjadilah sesuatu yang mematahkan seluruh logika penguncian. Yesus datang dan berdiri di tengah-tengah mereka, tanpa membuka gerendel, tanpa mengetuk pintu. Dan kata-kata pertama-Nya bukanlah teguran atas kepengecutan mereka yang telah lari meninggalkan-Nya, melainkan sapaan yang menyembuhkan: damai sejahtera bagi kamu. Inilah wajah Kerahiman Ilahi. Ia tidak menunggu kita cukup berani dan cukup layak untuk membuka pintu lebih dahulu. Ia menembus ketakutan kita dan berdiri di dalamnya dengan tangan yang membawa damai.
Tomas kebetulan tidak hadir malam itu, dan ia menolak percaya pada kabar teman-temannya; ia menuntut bukti yang bisa ia raba sendiri. Delapan hari kemudian Yesus datang lagi, dan kali ini khusus untuk Tomas, menawarkan luka-Nya untuk disentuh dan berkata: jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah. Dari mulut Tomas keluar pengakuan yang paling ringkas sekaligus paling dalam dalam seluruh Injil: ya Tuhanku dan Allahku. Keraguannya yang jujur justru berujung pada iman yang paling tegas.
Lalu Yesus mengucapkan berkat yang sesungguhnya tertuju kepada kita yang hidup berabad-abad kemudian: berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya. Itulah kita. Kita tidak pernah meraba bekas paku itu dengan jari kita. Namun kita mewarisi kesaksian jemaat perdana yang, kata Kisah Para Rasul, bertekun dalam pengajaran para rasul dan berkumpul memecahkan roti dengan gembira dan tulus hati. Iman sampai kepada kita lewat rantai orang yang percaya dan hidup berbeda karenanya.
Petrus menegaskan bahwa sukacita itu sungguh bisa menjadi milik kita juga: sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya, dan kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan tidak terkatakan. Maka hari Minggu Kerahiman ini bertanya lembut kepada kita masing-masing: pintu mana dalam hidupku yang masih kukunci rapat karena takut, karena malu, karena luka lama? Justru ke ruangan yang paling terkunci itulah Ia ingin masuk, membawa damai, bukan tuduhan.
Tuhan yang penuh kerahiman, Engkau menembus pintu-pintu ketakutanku dan berdiri di tengahnya dengan damai. Kuatkanlah aku percaya tanpa melihat, dan sembuhkanlah hatiku yang masih terkunci rapat. Amin.