Jumat, 10 April 2026
Kembali Menjala
Sesudah peristiwa besar dalam hidup, entah kehilangan yang memukul atau sukacita yang mengguncang, cepat atau lambat kita harus kembali ke pekerjaan biasa. Dapur harus dinyalakan lagi, ladang harus digarap lagi, dagangan harus ditata lagi di pasar. Rutinitas menunggu dengan sabar di balik setiap peristiwa luar biasa, dan kadang kembali ke situ terasa hambar sesudah hari-hari yang penuh.
Begitu pula para murid. Sesudah semua guncangan salib dan kubur kosong, Petrus berkata sederhana kepada teman-temannya: aku pergi menangkap ikan. Ia kembali ke pekerjaan lamanya, ke danau yang ia kenal sejak muda, ke jala dan perahu yang dahulu ia tinggalkan demi mengikut Yesus. Yang lain ikut. Dan seperti dahulu sebelum mereka mengenal Yesus, semalaman itu mereka tidak menangkap apa-apa. Perahu kosong, badan lelah, pagi terasa lebih dingin dari biasanya.
Justru di tengah kerja yang gagal itulah Yesus datang. Ia berdiri di pantai ketika hari mulai siang, mula-mula tidak dikenali, lalu menyuruh mereka menebar jala di sebelah kanan perahu. Sekali menurut pada suara itu, jala pun sesak sampai tidak bisa ditarik, seratus lima puluh tiga ekor ikan besar, dan jala itu tidak koyak. Yohanes langsung mengerti dan berbisik kepada Petrus: itu Tuhan. Ia mengenali-Nya bukan di puncak doa yang khusyuk, melainkan di tengah rutinitas melaut yang sehari-hari, dari kelimpahan yang tidak masuk akal.
Ini penghiburan besar bagi kita yang hidupnya lebih banyak diisi pekerjaan biasa daripada peristiwa rohani yang megah. Tuhan yang bangkit tidak hanya menunggu kita di gereja pada hari Minggu, di antara nyanyian dan lilin. Ia berdiri di pantai pekerjaan kita, di dapur, di kantor, di sawah, di jalanan, dan sanggup mengubah malam yang sia-sia menjadi jala yang penuh.
Perhatikan pula bahwa Petrus, begitu tahu itu Tuhan, langsung terjun ke dalam danau untuk lebih cepat sampai kepada-Nya. Rindu mengalahkan lelah. Dan di darat sudah tersedia api arang dengan ikan dan roti; Yesus sendiri yang menyiapkan sarapan bagi para pekerja yang letih. Dia yang bangkit tidak hanya memberi tugas, Ia juga memberi makan.
Bacaan pertama menegaskan siapa yang berdiri di pantai itu. Petrus berkata dengan berani di depan Mahkamah: tidak ada nama lain di bawah kolong langit ini yang olehnya kita dapat diselamatkan, selain nama Yesus. Nama itulah yang menjumpai kita, bahkan di tengah kerja yang paling biasa dan paling melelahkan.
Tuhan, jumpailah aku di tengah pekerjaanku sehari-hari. Buatlah aku mengenali-Mu berdiri di pantai, menaati sabda-Mu meski jala terasa kosong, dan berlari kepada-Mu tanpa menunda. Amin.