Minggu, 5 April 2026
Sebelum Matahari Terbit
Ada satu jam dalam sehari yang paling gelap sekaligus paling dingin, yaitu jam sebelum fajar. Namun justru pada jam itu kampung sudah mulai bergerak. Petani berangkat ke sawah, pedagang menata dagangan di pasar, nelayan menarik perahu ke air. Orang-orang yang paling mencintai pekerjaannya selalu bangun ketika hari masih gelap, jauh sebelum ada cukup cahaya untuk melihat jalan.
Injil Paskah dibuka persis pada jam itu. "Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur." Ia tidak menunggu terang. Ia tidak menunggu bukti. Kasih membuatnya berangkat dalam gelap, dan dalam gelap itulah ia menemukan batu telah terguling dari mulut kubur.
Selamat Paskah! Kristus telah bangkit, alleluya! Tetapi perhatikanlah, kabar terbesar sepanjang sejarah ini tidak dimulai dengan sorak-sorai dan lampu gemerlap. Ia dimulai dengan orang-orang yang berlari kebingungan dalam remang subuh. Maria berlari memanggil Petrus. Petrus dan murid yang dikasihi berlari ke kubur. Semua berlari pagi itu, sebab kasih memang tidak bisa berjalan santai ketika yang dicintai hilang. Lalu murid yang lebih muda menjenguk ke dalam, dan ia melihat serta percaya, meskipun, kata Yohanes dengan jujur, sampai saat itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan bahwa Ia harus bangkit.
Inilah tanda tangan iman Paskah: ia sering lahir dalam gelap, sebelum semuanya menjadi jelas. Kita pun tidak selalu memegang matahari terbit di tangan kita. Ada masa ketika kubur-kubur kita, entah kubur kekecewaan, kegagalan, atau kehilangan, terasa jauh lebih nyata daripada kebangkitan. Pada masa seperti itu, Maria mengajari kita satu hal: tetaplah berangkat lebih dahulu, mempercayai bahwa Ia hidup bahkan ketika mata belum bisa membuktikannya.
Paulus menarik akibatnya bagi kita dalam surat Kolose. Kalau kamu dibangkitkan bersama Kristus, carilah dan pikirkanlah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, bukan perkara yang di bumi. Orang Paskah tidak lagi tinggal berlama-lama di kubur kekecewaannya, mengunjungi lukanya berulang kali. Hidupnya, kata Paulus, kini tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah, aman di tempat yang tak bisa direbut maut.
Dan Petrus, yang subuh itu berlari kebingungan, kelak berdiri tegak di depan orang banyak dan berkata dengan yakin: Yesus itu telah dibunuh dan digantung pada kayu salib, tetapi Allah membangkitkan Dia pada hari yang ketiga, dan kami adalah saksinya. Matahari akhirnya memang terbit pagi itu. Tetapi imannya sudah lebih dahulu berjalan dalam gelap. Begitu pula bagi kita: percaya dulu, mengerti kemudian.
Tuhan yang bangkit, Engkau menemui mereka yang mencari-Mu selagi hari masih gelap. Kuatkanlah aku percaya sebelum semuanya terang, dan jadikanlah aku saksi kebangkitan-Mu. Alleluya. Amin.