Senin, 6 April 2026
Dua Versi Cerita
Di kampung, satu peristiwa sering melahirkan dua cerita yang berbeda. Ada versi orang yang benar-benar melihat, dan ada versi yang sengaja dibentuk supaya keadaan tetap aman bagi pihak tertentu. Yang pertama diceritakan dengan mata berbinar dan hati yang penuh. Yang kedua diceritakan sambil menoleh kiri-kanan, dengan suara diturunkan, takut ketahuan bahwa itu tidak benar.
Pagi Paskah menghasilkan tepat dua cerita semacam itu, dan Matius menaruh keduanya berdampingan. Para perempuan pergi dari kubur dengan takut sekaligus sukacita yang besar, berlari membawa kabar bahwa Yesus hidup. Sementara itu para penjaga kubur lari ke kota dan, sesudah para pemuka berunding, menerima sejumlah besar uang untuk mengarang cerita lain: katakanlah bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kalian tidur.
Perhatikan sekali lagi bahwa uang muncul di sekitar Yesus. Yudas menjual-Nya dengan tiga puluh perak; kini kebangkitan-Nya coba ditutup dengan sejumlah besar perak. Kebenaran diberi kabar gembira yang gratis; kebohongan harus dibeli dengan mahal. Dusta memang selalu butuh biaya untuk dipelihara, sedangkan kebenaran hanya butuh saksi yang berani.
Menarik bahwa Matius tidak menutup-nutupi adanya cerita tandingan itu. Ia bahkan mencatat bahwa cerita para penjaga tersiar di antara orang banyak sampai zamannya. Ia seolah berkata kepada pembaca: silakan timbang sendiri, cerita mana yang masuk akal. Yang satu meminta kita percaya bahwa para prajurit terlatih tertidur semua sekaligus, lalu tahu apa yang terjadi selagi mereka tidur. Yang lain meminta kita percaya kepada orang-orang yang rela mati demi kesaksiannya.
Sebab pada akhirnya kita semua menjadi penyampai salah satu dari dua cerita itu. Ada orang yang seluruh hidupnya menceritakan bahwa Kristus sungguh bangkit. Ada pula yang hidupnya, tanpa sepatah kata pun, menyiratkan bahwa kubur itu masih tertutup dan tidak ada yang berubah. Petrus pada hari Pentakosta memilih dengan tegas: Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. Ia tidak dibayar untuk berkata begitu; sebaliknya, kesaksian itu kelak membawanya ke penjara dan salib.
Dalam masa Oktaf ini, ketika sukacita Paskah masih hangat, ada baiknya kita bertanya jujur. Cerita mana yang sedang kubawa lewat cara hidupku sehari-hari? Cerita para saksi yang gratis dan penuh sukacita, atau cerita para penjaga yang dibayar untuk diam?
Tuhan, jauhkanlah aku dari cerita yang dibeli untuk menutupi kebenaran. Jadikanlah seluruh hidupku kesaksian yang gratis dan berani bahwa Engkau sungguh bangkit. Amin.