‹ Semua renungan

Rabu, 1 April 2026

Menaruh Harga

Di pasar hampir semua hal ada harganya. Ikan ditawar per kilo, kain diukur per meter, jasa tukang pun ada tarifnya. Dunia terasa rapi karena segala sesuatu bisa ditaksir. Selama yang ditaksir itu barang, tidak ada yang keliru. Yang keliru adalah ketika seorang pribadi ikut diseret ke atas timbangan.

Yang mengerikan dari Yudas bukanlah bahwa ia menerima uang. Yang mengerikan adalah pertanyaannya: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Guru yang tiga tahun berjalan bersamanya, yang memecah roti dari piring yang sama, diberi label: tiga puluh uang perak. Itu harga seorang budak yang tertanduk lembu, menurut hukum Musa. Kasih diturunkan pangkatnya menjadi barang dagangan, dan diberi harga yang bahkan tidak seberapa.

Kita mudah merasa jijik pada Yudas. Tetapi tawar-menawar itu lebih sering kita lakukan daripada yang kita akui. Kita menaksir orang dari apa yang bisa mereka berikan. Teman didekati selama menguntungkan. Relasi dijaga selama masih ada gunanya. Orang tua yang sudah renta diam-diam dihitung sebagai beban. Diam-diam kita pun bertanya seperti Yudas: apa yang hendak kauberikan kepadaku?

Bacaan pertama menaruh sosok yang berlawanan arah. Hamba Tuhan dalam Yesaya tidak menawar apa-apa. Ia memberi punggungnya kepada orang yang memukul, pipinya kepada yang mencabut janggut. Ia tidak menyembunyikan muka dari ludah. Bukan karena ia lemah atau tidak punya harga diri, melainkan karena ia berpegang pada satu hal: Tuhan ALLAH menolong aku, sebab itu aku tidak mendapat malu. Di dunia yang memberi harga pada segalanya, ada Orang yang membiarkan diri-Nya diperlakukan seolah tak berharga, justru demi kita yang tak sanggup membayar.

Malam itu, di meja yang sama, dua sikap duduk berdampingan. Yang satu menghitung untung, yang satu memberikan diri. Dan inilah yang paling menghancurkan hati: Yesus tahu persis siapa yang akan menjual-Nya, namun Ia tetap menyodorkan roti kepada tangan itu. Kasih-Nya tidak menunggu Yudas pantas dahulu.

Rabu ini kita berhenti sejenak di ambang Trihari Suci, sebelum langkah kita masuk ke hari-hari paling kudus. Ada baiknya kita bertanya jujur pada diri sendiri. Adakah orang yang diam-diam sudah kuberi label harga? Adakah kasih yang kutahan karena merasa tidak akan ada balasannya? Sebab jarak antara kita dan Yudas kadang lebih tipis daripada yang kita kira.

Tuhan, ampunilah aku yang kerap menakar sesama dengan hitungan untung dan rugi. Ajarilah aku mengasihi tanpa memasang harga, seperti Engkau mengasihi aku yang tak sanggup membayar. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →