‹ Semua renungan

Selasa, 31 Maret 2026

Ketika Hari Sudah Malam

Listrik padam selalu datang tanpa permisi. Rumah yang riuh mendadak senyap, dan dalam gelap orang meraba-raba mencari lilin. Anehnya, justru pada malam seperti itu satu nyala kecil kelihatan sangat terang. Gelap tidak pernah menang mutlak; ia hanya membuat terang makin berharga.

Injil hari ini menyimpan salah satu kalimat paling kelam dalam Kitab Suci. Setelah Yudas menerima roti dari tangan Yesus dan pergi ke luar, Yohanes menulis pendek: pada waktu itu hari sudah malam. Itu bukan sekadar keterangan jam. Itu keterangan hati. Malam sedang turun ke dalam diri seorang murid yang tiga tahun berjalan bersama Terang dunia.

Di ruang perjamuan itu ada dua kejatuhan yang sedang disiapkan. Yudas akan menyerahkan Dia. Petrus, yang dengan gagah berjanji memberikan nyawanya, akan menyangkal tiga kali sebelum ayam berkokok. Dua-duanya jatuh. Yang membedakan bukan besar dosanya, melainkan arah sesudahnya: Yudas tenggelam dalam malamnya, Petrus kelak menangis dan kembali. Pintu Yesus tidak pernah tertutup bagi keduanya; hanya satu yang percaya bahwa pintu itu masih terbuka.

Yang mengharukan, justru pada saat paling gelap itu Yesus berbicara tentang cahaya: "Sekarang Anak Manusia dipermuliakan." Sekarang? Ketika pengkhianat baru saja keluar dan salib tinggal hitungan jam? Ya, sekarang. Sebab kemuliaan Allah bukan gemerlap panggung, melainkan kasih yang bertahan sampai habis. Bacaan pertama memperdengarkan suara Hamba Tuhan yang sempat merasa gagal: aku telah bersusah-susah dengan percuma. Tetapi Allah menjawab bukan dengan menghibur, melainkan dengan memperluas tugasnya: Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa, supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi. Di titik yang tampak seperti kegagalan, Allah justru menyalakan terang yang lebih besar.

Kita pun mengenal malam-malam kita: kejatuhan yang memalukan, janji rohani yang patah, masa ketika doa terasa gelap gulita. Selasa Pekan Suci ini mengajak kita tidak lari dari malam itu, tetapi juga tidak menetap di dalamnya. Bersama Petrus, bukan bersama Yudas: menangis boleh, menyerah jangan. Sebab beberapa hari lagi kita akan melihat sejauh mana kasih itu pergi, dan sesudah malam yang paling pekat, fajar Paskah menunggu.

Tuhan Yesus, ketika hari sudah malam dalam hidupku, jagalah nyala kecil imanku. Jadikan aku seperti Petrus yang kembali, dan tuntun aku menuju fajar-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →