Senin, 30 Maret 2026
Semerbak Satu Rumah
Aroma punya kekuatan yang aneh. Masakan satu dapur bisa tercium sampai ke ujung gang. Minyak wangi yang dipakai satu orang memenuhi seluruh ruangan. Kebaikan yang sungguh-sungguh memang tidak bisa disembunyikan; ia menguap dan memenuhi rumah.
Enam hari sebelum Paskah, di Betania, Maria melakukan sesuatu yang membuat semua orang salah tingkah. Ia memecahkan tabungannya: setengah kati minyak narwastu murni, senilai tiga ratus dinar, hampir setahun upah pekerja. Semua dicurahkan ke kaki Yesus, lalu diseka dengan rambutnya sendiri. Yohanes mencatat detail yang hanya bisa ditulis seorang saksi mata: bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.
Protes datang segera, dan bunyinya sangat masuk akal: mengapa minyak ini tidak dijual dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin? Yang mengucapkannya Yudas Iskariot. Yohanes membuka kedoknya: bukan karena ia memperhatikan orang miskin, melainkan karena ia pencuri yang memegang kas. Inilah yang menyedihkan: bahasa amal dipakai untuk menutupi hati yang menghitung untung sendiri. Kata-kata yang benar bisa keluar dari hati yang salah.
Yesus membela Maria: biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Di antara semua orang di rumah itu, tampaknya hanya Maria yang menangkap isyarat waktu: Gurunya sedang berjalan menuju kematian. Maka ia memberi selagi masih bisa, tanpa menunggu, tanpa menyisakan. Cinta yang sejati memang selalu tampak boros di mata yang tidak mencintai.
Yesaya dalam bacaan pertama melukiskan Hamba Tuhan yang lembut: buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya. Yesus yang menerima curahan narwastu itu adalah Hamba yang sebentar lagi membiarkan diri-Nya patah, demi menyalakan kembali sumbu-sumbu yang hampir mati. Termasuk kita.
Memasuki Pekan Suci, Maria dari Betania mengajukan pertanyaan lewat teladannya: apa narwastu kita? Mungkin waktu yang kita anggap terlalu berharga untuk doa. Mungkin gengsi yang menghalangi kita meminta maaf. Mungkin tabungan kasih yang kita simpan untuk nanti-nanti. Pekan ini waktu yang tepat untuk memecahkannya di kaki Yesus. Jangan takut disebut boros. Rumah kita, keluarga kita, mungkin sudah lama menunggu semerbak itu.
Tuhan Yesus, terimalah persembahanku yang terbaik, bukan sisa-sisaku. Biarlah kasihku kepada-Mu semerbak memenuhi rumah dan hari-hariku. Amin.