Kamis, 26 Maret 2026
Nama yang Dititipkan
Dalam banyak keluarga, nama diberikan sebagai doa. Ada anak yang dinamai menurut kakeknya, ada yang menurut orang kudus, ada yang menyimpan seluruh harapan orang tuanya. Nama bukan sekadar panggilan; ia arah hidup yang dititipkan.
Hari ini Allah mengganti nama Abram menjadi Abraham, bapa sejumlah besar bangsa. Yang menakjubkan, nama itu diberikan ketika ia belum punya apa-apa untuk membuktikannya: usianya lanjut, istrinya mandul. Allah menamai orang bukan menurut keadaannya, melainkan menurut janji-Nya. Abraham dipanggil sesuai masa depannya, bukan masa lalunya.
Dalam Injil, percakapan tentang Abraham memuncak pada pernyataan Yesus yang membuat orang mengambil batu: "Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." Aku ada: nama yang dahulu diperdengarkan kepada Musa dari semak bernyala. Yesus bukan sekadar keturunan Abraham; Ia adalah Dia yang hari-Nya dinantikan Abraham dengan sukacita.
Kepada kita pun Allah menyimpan sebuah nama: anak-Ku. Nama itu diberikan dalam pembaptisan, jauh sebelum kita pantas menyandangnya. Hidup beriman adalah perjalanan panjang bertumbuh menjadi seperti nama yang telah diucapkan-Nya atas kita.
Bapa, Engkau memanggilku anak sebelum aku layak. Bentuklah aku sampai hidupku serupa dengan nama yang Kauberikan. Amin.