‹ Semua renungan

Rabu, 25 Maret 2026

Sepatah Ya

Sejarah suka mencatat yang gemuruh: perang, penobatan, penemuan besar. Padahal banyak belokan sejarah dimulai dari peristiwa yang nyaris tak terdengar. Sebuah lamaran diterima di ruang tamu sederhana. Sebuah tanda tangan di sudut kertas. Sepatah kata ya yang diucapkan dengan suara pelan.

Hari ini kita merayakan sepatah ya yang paling menentukan dalam sejarah keselamatan. Di Nazaret, kota kecil yang tidak masuk hitungan, malaikat Gabriel menyampaikan rencana Allah kepada seorang gadis bernama Maria. Ia terkejut. Ia bertanya: bagaimana mungkin, karena aku belum bersuami? Pertanyaan yang jujur, bukan penolakan. Dan setelah mendengar jawaban, ia menyerahkan seluruh dirinya dalam satu kalimat: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."

Dalam bahasa Latin, kata jadilah itu berbunyi fiat. Kata yang sama dipakai dalam kisah penciptaan: fiat lux, jadilah terang. Allah menciptakan dunia dengan fiat-Nya, dan Ia berkenan memulai penciptaan baru dengan menunggu fiat seorang manusia. Yang Mahakuasa mengetuk, bukan mendobrak. Langit seakan menahan napas menunggu jawaban seorang gadis desa.

Bandingkan dengan Ahas dalam bacaan pertama. Raja itu ditawari tanda oleh Allah sendiri, bebas memilih dari dunia orang mati sampai tempat tertinggi. Ia menolak dengan alasan yang terdengar saleh: aku tidak mau mencobai Tuhan. Padahal ia sedang menutup pintu. Justru dari penolakan itu Allah menjanjikan tanda-Nya sendiri: seorang perempuan muda mengandung dan melahirkan anak laki-laki, Imanuel, Allah menyertai kita. Surat Ibrani merangkum arah seluruh peristiwa ini dalam kata-kata Kristus: sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.

Sembilan bulan dari sekarang kita akan merayakan Natal. Hari ini adalah pangkalnya yang sunyi: Allah menjadi manusia bukan mulai dari palungan, melainkan dari rahim, pada detik Maria berkata ya.

Kita pun setiap hari menerima kabar-kabar kecil dari Allah: dorongan untuk memaafkan, panggilan untuk menolong, tugas yang tidak kita pilih. Kepada semua itu tersedia dua jawaban. Jawaban Ahas yang mengelak dengan halus, atau jawaban Maria yang membuka diri. Sejarah keselamatan di rumah kita, di lingkungan kita, sering hanya menunggu satu hal: sepatah ya yang diucapkan pelan tetapi utuh.

Tuhan, bersama Maria aku berkata: jadilah padaku menurut kehendak-Mu. Jadikan hidupku ruang bagi rencana-Mu hari ini. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →