Selasa, 24 Maret 2026
Memandang Luka
Anak kecil yang jatuh biasanya menutup lukanya rapat-rapat. Melihat darah membuatnya makin takut. Padahal ibu yang mau mengobati selalu berkata sama: coba lihat dulu, tunjukkan lukanya. Kesembuhan mulai ketika luka berani dipandang.
Di padang gurun, Israel yang dipagut ular tidak disuruh lari atau memejamkan mata. Musa diminta membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang: setiap orang yang terpagut, jika ia memandangnya, akan tetap hidup. Aneh. Gambar dari sumber celaka justru menjadi jalan sembuh, asal dipandang dengan iman.
Kemarin kita mendengar Yesus melepaskan perempuan yang nyaris dirajam. Hari ini Ia mulai berbicara tentang diri-Nya dengan bahasa tiang itu: apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu bahwa Akulah Dia. Ia akan ditinggikan di kayu salib, dan justru dari sana kesembuhan mengalir bagi setiap orang yang memandang-Nya.
Prapaskah mengajak kita melakukan dua pandangan yang sama-sama membutuhkan keberanian: memandang luka dosa kita dengan jujur, dan memandang Dia yang tersalib dengan percaya. Yang pertama tanpa yang kedua melahirkan putus asa. Keduanya bersama melahirkan hidup.
Yesus yang ditinggikan di salib, kupandang Engkau dengan segala lukaku. Sembuhkanlah aku. Amin.