Senin, 23 Maret 2026
Genggaman yang Terbuka
Batu enak digenggam. Ia memberi rasa berkuasa: sekali lempar, perkara selesai. Kerumunan yang menggenggam batu selalu merasa benar bersama-sama, dan kebenaran yang beramai-ramai jarang mau repot memeriksa dirinya sendiri.
Bacaan pertama mengisahkan Susana, perempuan tak bersalah yang nyaris mati dirajam oleh fitnah dua hakim tua, sampai Allah membangkitkan Daniel muda yang berani membongkar dusta itu. Injil menghadirkan adegan serupa: seorang perempuan yang tertangkap berzinah diseret ke tengah, dijadikan umpan untuk menjerat Yesus. Hukum Musa berkata rajam. Bagaimana pendapat-Mu?
Yesus tidak membela dosa, tidak juga membuang hukum. Ia membungkuk, menulis di tanah, lalu berkata: barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu. Satu per satu batu diletakkan. Yang tertua pergi lebih dulu; makin panjang umur, makin panjang pula daftar dosanya. Akhirnya tinggal dua: perempuan itu dan Dia yang tanpa dosa, satu-satunya yang berhak melempar, dan justru memilih mengampuni. "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi."
Hari ini baiklah kita periksa genggaman kita. Batu untuk siapa yang masih kita simpan?
Tuhan, bukalah jari-jariku yang menggenggam batu penghakiman, dan ingatkan aku pada dosaku sendiri yang telah Kauampuni. Amin.