‹ Semua renungan

Minggu, 22 Maret 2026

Yesus Menangis

Di rumah duka, kata-kata sering kehilangan daya. Ucapan turut berduka terdengar hambar bila diulang-ulang. Yang paling menghibur biasanya bukan kalimat, melainkan kehadiran: seseorang yang datang, duduk di samping kita, dan ikut menangis.

Injil hari ini menyimpan salah satu ayat terpendek dalam Kitab Suci: maka menangislah Yesus. Kalimat yang mengejutkan. Ia datang ke Betania justru untuk membangkitkan Lazarus; Ia tahu betul bahwa sebentar lagi kubur itu akan kosong. Tetapi di hadapan Maria yang tersungkur dan para pelayat yang meratap, Ia tidak berceramah tentang kebangkitan. Ia masygul. Ia terharu. Ia menangis. Sampai orang-orang berkata: lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya.

Marta menyambut Yesus dengan kalimat yang pasti pernah kita ucapkan dengan bahasa kita sendiri: Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Sekiranya Engkau datang lebih cepat. Sekiranya doaku dijawab tepat waktu. Yesus memang sengaja menunda dua hari, dan penundaan itu terasa seperti keterlambatan. Tetapi di ujung percakapan, Marta menerima pernyataan yang menjadi jangkar iman kita: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati."

Lalu di depan kubur, Yesus menyuruh mengangkat batu. Marta yang praktis mengingatkan: sudah empat hari, sudah berbau. Empat hari, bagi orang zaman itu, berarti benar-benar selesai; tidak ada harapan tersisa. Justru di titik selesai itulah Yesus berseru: "Lazarus, marilah ke luar!" Dan yang mati itu keluar.

Yehezkiel dalam bacaan pertama mendengar janji serupa untuk bangsa yang merasa tamat di pembuangan: Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku. Paulus menyempurnakannya: Roh yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati diam di dalam kamu.

Kita semua punya kubur yang batunya sudah lama tidak berani kita sentuh. Kematian orang terkasih. Harapan yang gagal. Relasi yang membusuk bertahun-tahun. Injil hari ini membawa dua kabar sekaligus. Pertama, Allah kita bukan penonton yang jauh; Ia berdiri di depan kubur kita dan ikut menangis. Kedua, tangisan-Nya bukan tanda kalah. Suara yang memanggil Lazarus masih sanggup memanggil keluar apa pun yang sudah empat hari mati dalam hidup kita.

Menjelang Pekan Suci, biarlah pertanyaan Yesus kepada Marta menjadi pertanyaan kepada kita: percayakah engkau akan hal ini?

Yesus, kebangkitan dan hidup, berdirilah di depan kubur-kubur hidupku. Aku percaya; panggillah keluar apa yang telah lama kuanggap selesai. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →