‹ Semua renungan

Sabtu, 14 Maret 2026

Kabut Pagi

Kabut pagi selalu tampak meyakinkan. Ia menutup lembah, memutihkan sawah, seolah akan tinggal selamanya. Tetapi begitu matahari naik sepenggalah, ia menguap tanpa pamit. Yang kelihatan paling tebal ternyata yang paling cepat hilang.

Lewat Hosea, Allah mengeluh dengan gambar itu: kasih setiamu seperti kabut pagi, seperti embun yang hilang pagi-pagi benar. Umat rajin datang membawa kurban, tetapi hatinya menguap sebelum siang. Maka Allah menegaskan selera-Nya: Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan.

Orang Farisi dalam perumpamaan hari ini adalah kabut yang paling tebal. Doanya di Bait Allah sesungguhnya laporan prestasi: aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberi sepersepuluh. Kata aku berulang-ulang, dan Allah nyaris hanya menjadi pendengar. Sementara di sudut, pemungut cukai tidak berani menengadah. Doanya satu kalimat: ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Justru dia yang pulang dibenarkan.

Prapaskah sudah melewati pertengahan. Puasa dan pantang kita ini kabut ataukah mata air? Ukurannya bukan tebalnya di mata orang, melainkan bertahannya ketika matahari pencobaan mulai meninggi.

Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Jadikan kasihku setia sampai siang, bukan hilang bersama embun pagi. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →