‹ Semua renungan

Minggu, 15 Maret 2026

Memilih Buah

Di lapak buah, tangan kita otomatis memilih yang kulitnya mulus. Yang bentuknya aneh dibiarkan. Padahal pedagang yang jujur sering berkata: jangan tertipu kulit. Ada yang mengilap di luar tetapi masam di dalam, ada yang burik di luar tetapi manisnya bukan main. Mata kita ternyata alat ukur yang gampang dibohongi.

Samuel, nabi besar itu, hampir tertipu dengan cara yang sama. Melihat Eliab yang tinggi tegap, ia yakin inilah raja pilihan Tuhan. Tetapi Tuhan menegurnya dengan kalimat yang patut dihafal setiap orang: manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati. Tujuh anak Isai lewat, tujuh kali Tuhan menolak. Yang terpilih justru si bungsu yang tidak diperhitungkan, yang sedang menggembalakan domba di padang: Daud. Samuel mengurapinya dengan minyak. Dari urapan itulah gelar terpenting iman kita lahir: Mesias dalam bahasa Ibrani, Christos dalam bahasa Yunani, Kristus. Artinya sama: Yang Diurapi.

Injil hari ini melanjutkan pelajaran tentang mata. Orang buta sejak lahir dipandang semua orang sebagai buah gagal. Murid-murid bertanya dosa siapa ini. Tetangga hanya mengenalnya sebagai pengemis. Orang Farisi mengusirnya sebagai orang yang lahir dalam dosa. Hanya Yesus yang memandangnya sebagai tempat pekerjaan Allah dinyatakan. Ia mengoleskan tanah pada matanya, menyuruhnya membasuh diri di Siloam, dan orang itu melihat.

Lucunya, justru setelah mujizat itu kelihatan siapa yang sungguh buta. Si buta makin terang: mula-mula menyebut Yesus orang itu, lalu nabi, akhirnya sujud dan berkata, "Aku percaya, Tuhan." Sementara orang Farisi yang matanya sehat makin gelap: sibuk menyelidiki, menolak, mengusir. Kata Yesus, karena kamu berkata kami melihat, maka tetaplah dosamu.

Minggu Laetare mengajak kita bersukacita, dan inilah alasannya: Allah tidak memilih seperti kita memilih buah. Ia tidak menimbang kulit, riwayat, atau penilaian tetangga. Ia melihat hati, dan dari hati yang remuk pun Ia sanggup menjadikan raja atau saksi.

Tinggal satu pertanyaan untuk dibawa sepanjang pekan: dengan mata siapa kita memandang orang-orang di sekitar kita? Mata pasar yang menilai kulit, atau mata Tuhan yang mencari hati?

Tuhan, celikkanlah mataku seperti Engkau mencelikkan orang buta itu. Ajari aku memandang sesamaku sebagaimana Engkau memandang hatiku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →