Senin, 23 Februari 2026
Raja yang Menyamar
Ada wajah-wajah yang setiap hari kita lewati tanpa benar-benar melihat: penjaga parkir, pemulung, penjual tisu di lampu merah, nenek yang tinggal sendirian di ujung gang. Mereka hadir, tetapi bagi mata kita nyaris tidak ada.
Injil hari ini membocorkan rahasia pengadilan terakhir, dan isinya mengejutkan dua kelompok sekaligus. Yang diberkati terkejut: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar? Yang terkutuk sama terkejutnya. Keduanya tidak pernah menyadari bahwa Raja berjalan-jalan dengan menyamar: ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
Ukuran pengadilan itu bukan hal-hal muluk. Bukan mukjizat, bukan jabatan. Sepiring makanan, segelas minum, tumpangan, pakaian, kunjungan. Semuanya bisa dikerjakan siapa saja, hari ini juga.
Bacaan pertama sejalan: kuduslah kamu, sebab Aku kudus, lalu langsung diterjemahkan menjadi upah buruh yang tidak boleh ditahan dan fitnah yang tidak boleh disebar. Kekudusan berkaki di bumi. Prapaskah kita pun sebaiknya begitu: bukan hanya mengurangi sesuatu, melainkan menajamkan mata terhadap Raja yang menyamar di dekat kita.
Tuhan, tolonglah aku mengenali-Mu hari ini dalam wajah yang biasanya kulewati begitu saja. Amin.