Minggu, 22 Februari 2026
Serah Terima Kunci
Serah terima kunci adalah upacara kecil yang sarat makna. Sebuah rumah berpindah kepercayaan lewat sepotong logam bergerigi. Siapa memegang kunci, dialah yang dipercaya membuka dan mengunci, menyambut tamu atau menolaknya. Kunci tidak diberikan kepada sembarang orang.
Di Kaisarea Filipi Yesus bertanya dua kali. Pertama soal kata orang: ada yang bilang Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia. Jawaban aman, sebab jawaban orang lain tidak menuntut apa-apa dari kita. Lalu pertanyaan kedua yang tidak bisa diwakilkan: tetapi apa katamu, siapakah Aku ini? Simon menjawab: Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Dan kepada nelayan itu Yesus berkata: engkau adalah Petrus, batu karang, dan kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga.
Yang menerima kunci itu bukan orang yang tidak pernah gagal. Petrus akan tenggelam karena bimbang, ditegur keras karena menghalangi jalan salib, dan pada malam paling genting menyangkal Gurunya tiga kali di depan seorang pelayan. Yesus tahu semuanya itu, dan tetap menyerahkan kunci. Sungguh mencengangkan cara Allah memercayai manusia. Gereja tidak didirikan di atas manusia sempurna, melainkan di atas pendosa yang dicintai dan bangkit lagi.
Bacaan pertama memperdengarkan suara Petrus di usia tuanya, dan terasa sekali bekas didikan itu. Gembalakanlah kawanan domba Allah, tulisnya, jangan dengan paksa, jangan karena mencari keuntungan, jangan memerintah, melainkan jadilah teladan. Orang yang pernah diampuni sebesar itu memang tidak bisa lagi memimpin dengan tangan besi. Ia tahu betapa lembut dirinya pernah diperlakukan.
Kita memasuki pekan pertama masa Prapaskah, dan pertanyaan Kaisarea Filipi itu diajukan ulang kepada kita: menurutmu, siapakah Aku? Bukan menurut buku, bukan menurut khotbah yang pernah kaudengar. Menurutmu. Jawaban kita akan kelihatan bukan di bibir, melainkan di cara kita memakai kunci-kunci kecil yang dipercayakan kepada kita: keluarga, pekerjaan, komunitas, nama baik orang lain.
Kepada tangan yang pernah gagal pun Tuhan berani menitipkan kunci. Itu kabar baik bagi kita semua yang memasuki Prapaskah ini sambil membawa daftar kegagalan.
Tuhan Yesus, Engkau memercayai Petrus yang rapuh, maka aku berani percaya Engkau pun memercayaiku. Jadikan aku pemegang kunci yang setia dan gembala yang lembut bagi orang-orang di sekitarku. Amin.