‹ Semua renungan

Minggu, 28 Desember 2031

Yang Kekal Punya Alamat

Bacaan I 1 Yohanes 2:18-21 Mazmur Mazmur 96:1-2,11-13 Injil Yohanes 1:1-18

Setiap orang punya alamat masa kecil. Sebuah rumah dengan dapur yang baunya masih terekam, halaman tempat kita jatuh dan berdarah, ambang pintu yang tingginya kita ukur dengan coretan tiap tahun. Alamat itu membentuk kita jauh sebelum kita bisa memilih. Kita adalah anak dari sebuah tempat, sebuah keluarga, sebuah rutinitas.

Injil hari raya Keluarga Kudus justru membuka dengan kalimat yang paling jauh dari soal alamat. "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah." Ini tentang Yang Kekal, yang tak punya awal, yang ada sebelum ada tempat mana pun. Bagaimana mungkin Yang seperti itu dipasangkan dengan pesta tentang sebuah keluarga?

Justru di situlah keajaibannya. Firman yang kekal itu, yang tidak butuh rumah, tidak butuh keluarga, tidak butuh alamat, memilih untuk memilikinya. "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita." Ia yang tak punya awal kini punya hari ulang tahun. Ia yang mengisi seluruh ruang kini punya satu alamat di Nazaret. Ia yang adalah Allah kini punya ibu yang memanggil-Nya makan dan ayah angkat yang mengajari-Nya memegang martil.

Kita mudah menganggap kehidupan keluarga sebagai sesuatu yang biasa, bahkan membosankan. Rutinitas yang berulang: memasak, mencuci, menegur, memaafkan, mengantar, menjemput. Hari-hari yang tampak tak istimewa. Tetapi hari raya ini mengangkat semua itu menjadi kudus. Sebab Allah sendiri memilih tumbuh besar di dalamnya.

Yesus tidak turun dari langit sebagai orang dewasa yang siap mengajar. Ia memulai sebagai bayi, lalu kanak-kanak, lalu remaja di sebuah rumah tukang kayu. Ia belajar berjalan sambil dipegangi. Ia belajar adat dan doa dari orang tua-Nya. Selama bertahun-tahun, karya penyelamatan dunia berlangsung dalam bentuk yang paling sederhana: seorang anak tumbuh dalam sebuah keluarga.

Surat Yohanes hari ini mengingatkan bahwa waktu ini adalah waktu yang terakhir, zaman yang penuh kebingungan dan suara-suara palsu. Justru di zaman seperti itu, keluarga menjadi tempat pertama iman diwariskan, tempat anak-anak belajar mengenali suara yang benar di antara sekian banyak suara.

Maka keluarga kita, dengan segala keributan dan kekurangannya, bukan tempat yang terlalu remeh bagi Allah. Ia sendiri pernah tinggal di alamat seperti itu. Yang Kekal memilih punya rumah, supaya rumah kita boleh menjadi kudus.

Tuhan, Engkau yang kekal memilih tumbuh dalam sebuah keluarga. Kuduskanlah rumah kami dengan segala rutinitas dan kekurangannya, dan jadikan ia tempat iman berakar. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →