‹ Semua renungan

Sabtu, 27 Desember 2031

Berlari tapi Mengalah

Kabar bahwa kubur Yesus kosong membuat dua murid berlari. Petrus dan murid yang dikasihi Yesus, yang kita kenal sebagai Yohanes, berlomba menuju makam. Injil mencatat detail yang jujur, "murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur."

Yohanes lebih muda, lebih gesit. Ia menang dalam lari itu, tiba lebih dulu. Namun sesuatu yang indah terjadi di depan pintu kubur. Ia berhenti. "Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam." Ia menunggu Petrus, yang lebih tua, untuk masuk lebih dahulu.

Ada dua gerak yang berpadu dalam diri Yohanes. Cinta yang membuatnya berlari kencang, dan hormat yang membuatnya mengalah di ambang pintu. Ia tak kehilangan semangat, tetapi juga tak menyerobot. Kaki boleh cepat, hati tetap tahu tempat.

Kita hidup di zaman yang mengajari sebaliknya. Siapa cepat, dialah yang berhak duluan. Sampai lebih dulu berarti menang, dan mengalah dianggap kalah. Yohanes menunjukkan jalan lain: bisa bersemangat sekaligus rendah hati, bisa unggul tanpa harus menonjolkan keunggulan.

Dan ketika akhirnya ia masuk, Injil mencatat empat kata yang padat, "ia melihatnya dan percaya." Yang tiba lebih dulu, yang mengalah lebih dulu, juga yang percaya lebih dulu. Kerendahan hati rupanya membuka mata iman lebih lebar.

Tuhan, ajari aku berlari dengan penuh cinta namun tetap tahu mengalah. Bukalah mata imanku seperti Engkau membukanya bagi murid yang Kaukasihi. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →