Selasa, 9 Desember 2031
Dua Kali Kata Hibur
Orang yang pernah melayat tahu betapa sulitnya berkata-kata di depan keluarga yang berduka. Kita berdiri di ambang pintu, mulut terkunci, akhirnya hanya menggenggam tangan mereka. Kadang yang paling menghibur bukan kalimat panjang, melainkan kehadiran yang mengulang pelan, sabar ya, sabar ya.
Yesaya membuka pasal keempat puluh dengan kata yang diulang persis seperti itu. "Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu." Dua kali. Bukan karena nabi kehabisan kata, melainkan karena luka yang dalam memang perlu didengar lebih dari sekali. Bangsa itu baru saja hancur, dibuang, kehilangan segalanya. Satu kata hibur tak akan cukup.
Yang menarik, penghiburan itu tidak datang dengan menyangkal luka. Allah tidak berkata, sudahlah, tidak apa-apa, lupakan. Ia mengakui bahwa perhambaan itu nyata, bahwa hukuman itu berat. Penghiburan sejati tidak berpura-pura luka itu tak ada. Ia duduk di sampingnya.
Dan di ujung pasal, gambaran yang lembut. Allah yang perkasa, yang datang dengan tangan berkuasa, ternyata "seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya, anak-anak domba dipangku-Nya." Tangan yang sama yang menggenggam alam semesta memangku domba yang lelah.
Adven adalah musim mendengar kata hibur yang diucapkan dua kali. Dan mungkin, tugas kita adalah menjadi mulut yang mengulangnya bagi orang di sebelah yang sedang remuk.
Tuhan, hiburkanlah aku yang letih, dan jadikan aku penghibur bagi yang berduka di dekatku. Amin.