‹ Semua renungan

Senin, 8 Desember 2031

Jernih dari Hulu

Bacaan I Kejadian 3:9-15,20 Mazmur Mazmur 98:1-4 Injil Lukas 1:26-38

Siapa yang pernah menyusuri sungai sampai ke hulunya tahu satu hal yang mengejutkan. Air yang di kota tampak keruh, penuh sampah dan busa, ternyata di mata airnya jernih sampai ke dasar. Semakin dekat ke sumber, semakin bening. Kotoran itu datang belakangan, di sepanjang perjalanan, bukan dari asalnya.

Hari ini Gereja merayakan Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Ajaran ini kerap disalahpahami seakan Maria dibuat dari bahan yang berbeda dari kita, seolah ia bukan manusia sungguhan. Padahal maknanya lebih dalam. Maria adalah mata air yang dijaga tetap jernih sejak titik pertama, supaya air yang mengalir turun kepada kita, yaitu Kristus sendiri, tidak lahir dari sumber yang tercemar.

Bacaan pertama membawa kita ke titik keruh yang mula-mula. Di taman, manusia pertama melanggar, lalu saling menunjuk. Adam menyalahkan Hawa, Hawa menyalahkan ular. Dari situlah sungai kemanusiaan mulai kotor. Namun di tengah kutukan, terselip janji yang aneh, "Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini." Sudah dijanjikan seorang perempuan yang tidak akan tunduk pada ular.

Surat kepada jemaat di Efesus mengangkat kita lebih tinggi lagi. "Di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya." Perhatikan waktunya: sebelum dunia dijadikan. Rencana Allah atas Maria, dan atas kita, tidak dipikirkan mendadak. Ia sudah ada sebelum ada apa-apa. Kejernihan Maria bukan prestasi yang ia raih, melainkan anugerah yang mendahului kelahirannya.

Lalu datang Gabriel ke Nazaret dengan sapaan yang ganjil, "Salam, hai engkau yang dikaruniai." Dalam bahasa aslinya, ini semacam nama baru. Bukan hai Maria yang akan dikaruniai, melainkan yang sudah penuh rahmat sejak sebelum ia berkata ya. Rahmat mendahului jawabannya.

Di sinilah pesta ini menyentuh kita yang bukan Maria. Sebab kita pun dipilih sebelum dunia dijadikan. Bedanya, kita adalah air yang sudah terlanjur keruh di sepanjang jalan, dan justru untuk itu Kristus datang: membeningkan kembali dari hilir. Maria dijaga jernih dari hulu supaya kita yang keruh punya jalan pulang ke sumber.

Maka pesta hari ini bukan tentang jarak antara kita dan Maria, melainkan tentang arah yang sama: kembali ke mata air.

Allah yang memilih kami sebelum dunia dijadikan, jernihkanlah kembali hidup kami yang telah keruh di sepanjang jalan. Seperti Maria, jadikan kami tempat yang layak Kaudiami. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →