Kamis, 20 November 2031
Aku dan Rumahku Tidak
Kemarin perumpamaan tentang uang yang harus diputar berakhir dengan Yesus meneruskan perjalanan ke Yerusalem. Hari ini, mendekati kota itu, Ia menangis. Tetapi Bacaan Pertama menawarkan pemandangan yang berbeda: seorang tua yang berani berkata tidak ketika semua orang berkata ya.
Namanya Matatias. Ketika petugas raja datang memaksa orang menyembah berhala, iming-imingnya menggiurkan: perak, emas, kehormatan, tempat di antara sahabat-sahabat raja. Dan banyak yang menyerah. Toh semua orang melakukannya. Toh melawan hanya cari susah.
Tetapi Matatias menjawab dengan suara lantang, kalimat yang layak dikenang: kalaupun segala bangsa mematuhi raja, aku serta anak-anak dan kaum kerabatku tetap hidup menurut perjanjian nenek moyang kami. Aku dan rumahku tidak ikut. Bukan karena ia paling suci, melainkan karena ia tahu bahwa jumlah yang banyak tidak pernah mengubah yang salah menjadi benar.
Inilah godaan paling halus di zaman mana pun: bukan diajak berbuat jahat secara terang-terangan, melainkan diyakinkan bahwa semua orang toh sudah melakukannya. Ikut arus terasa aman, sopan, tidak mencolok. Melawan arus terasa aneh dan melelahkan.
Air mata Yesus atas Yerusalem lahir justru karena kota itu ikut arus zamannya sampai tidak lagi mengenali saat Allah melawatnya. Adakah hal yang kuikuti sekadar karena semua orang mengikutinya, padahal hatiku diam-diam tahu itu keliru?
Tuhan, berilah aku keberanian Matatias untuk berkata aku dan rumahku tidak, ketika arus zaman menyeret ke arah yang salah. Amin.