‹ Semua renungan

Minggu, 21 September 2031

Cerdik untuk yang Kekal

Perhatikanlah pedagang pasar yang berpengalaman. Tanpa kalkulator, hitungannya cepat dan jarang meleset. Ia hafal harga kulakan, tahu kapan menaikkan harga, tahu pembeli mana yang bisa ditawar. Seluruh kecerdasannya bekerja untuk satu hal: hari esok dagangannya.

Yesus hari ini menceritakan tokoh yang sekilas memalukan: bendahara yang ketahuan menghamburkan harta tuannya. Menjelang dipecat, otaknya justru menyala. Ia memanggil para penghutang tuannya dan memotong surat hutang mereka, supaya kelak ada yang menampungnya. Lalu datang kalimat yang mengejutkan: tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik.

Jangan salah paham. Yang dipuji bukan ketidakjujurannya, melainkan kecerdikannya. Orang itu berpikir keras, membaca situasi, dan bertindak cepat demi masa depannya. Lalu Yesus menghela napas: anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang. Betapa benarnya. Untuk urusan cicilan, promosi, dan panen, kita bisa berhitung bertahun-tahun ke depan. Untuk urusan kekekalan, kita sering tidak punya rencana apa-apa.

Yesus lalu menyebut nama tuan yang satunya: Mamon. Kata Aram itu berarti harta, sesuatu yang diandalkan. Di situlah persoalannya. Uang boleh dipakai, bahkan Yesus menyuruh memakainya untuk mengikat persahabatan yang bernilai kekal. Tetapi uang tidak boleh diandalkan sebagai tuan. Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Perhatikan: Yesus tidak berkata sebaiknya jangan. Ia berkata tidak dapat.

Nabi Amos menunjukkan wajah orang yang gagal dalam ujian ini. Para pedagang di zamannya duduk gelisah dalam ibadat, menghitung menit: bilakah bulan baru berlalu, supaya kita boleh menjual gandum? Badan mereka di rumah ibadat, hati mereka di timbangan yang sudah mereka akali, mengecilkan efa, membesarkan syikal, membeli orang miskin karena sepasang kasut. Ibadah jalan terus, kecurangan juga jalan terus. Dan Tuhan bersumpah tidak akan melupakannya.

Sementara Paulus menawarkan arah yang sehat bagi kecerdikan kita: naikkanlah doa untuk semua orang, sebab Allah menghendaki semua orang diselamatkan. Itulah investasi anak-anak terang: doa, kejujuran, persahabatan dengan orang kecil.

Maka baiklah kita bertanya seperti bendahara itu, tetapi dengan arah yang benar: apa yang harus aku perbuat sekarang, selagi masih ada waktu? Seberapa cerdik aku merencanakan hal-hal yang tidak akan hangus?

Tuhan, berilah aku kecerdikan anak-anak terang: setia dalam perkara kecil, jujur dalam harta, dan kaya di hadapan-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →