Sabtu, 20 September 2031
Benih di Tanah Jauh
Kemarin kita bertemu rombongan Yesus yang berkeliling dari desa ke desa. Hari ini Ia menjelaskan apa sebenarnya yang mereka tebarkan: benih. Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Ada yang jatuh di jalan, di batu, di semak duri. Dan ada yang jatuh di tanah yang baik, lalu berbuah seratus kali lipat.
Sejarah punya contoh tanah baik yang mengejutkan: Korea. Iman Katolik masuk ke sana bukan dibawa misionaris, melainkan oleh kaum awam yang membaca buku-buku dari Tiongkok. Puluhan tahun umat bertumbuh nyaris tanpa imam. Ketika penganiayaan datang, ribuan orang memilih mati daripada menyangkal. Hari ini Gereja mengenang mereka: Santo Andreas Kim Taegon, imam pertama Korea yang dipenggal pada usia dua puluh lima tahun, Paulus Chong Hasang, dan kawan-kawannya para martir.
Benih yang sama jatuh di hati kita setiap hari lewat bacaan dan Misa. Pertanyaannya selalu soal tanah. Adakah ia dicuri kesibukan sebelum sempat berakar? Layu saat pencobaan pertama? Terhimpit kekuatiran dan kenikmatan hidup?
Paulus berpesan kepada Timotius: turutilah perintah ini dengan tidak bercacat sampai Tuhan menyatakan diri. Bahasa lain untuk berbuah dalam ketekunan.
Semak duri apa yang paling sering menghimpit firman di hatiku?
Tuhan, gemburkanlah hatiku menjadi tanah yang baik, dan buatlah benih-Mu berbuah dalam ketekunan. Amin.