‹ Semua renungan

Kamis, 28 Agustus 2031

Hati yang Gelisah

Ada kegelisahan yang tak sembuh oleh apa pun yang kita coba. Kita kira ia akan reda kalau kita dapat pekerjaan yang lebih baik, barang yang lebih bagus, pengakuan yang lebih banyak. Sebentar reda, lalu gelisah lagi. Seolah ada lubang yang tak bisa ditambal oleh isi apa pun dari dunia ini.

Santo Agustinus, yang kita rayakan hari ini, mengenal kegelisahan itu sampai ke dasarnya. Ia mencari kepuasan dalam ilmu, dalam kesenangan, dalam ambisi, bertahun-tahun. Semua terasa kurang. Baru setelah berjumpa dengan Tuhan ia menemukan namanya. Ia menulis kalimat yang kemudian dikenang, "Hati kami gelisah sampai beristirahat dalam Engkau."

Ternyata kegelisahan itu bukan penyakit yang harus dibasmi, melainkan penunjuk arah. Ia seperti jarum kompas yang selalu resah sampai menunjuk ke utara. Hati kita dibuat untuk Allah, maka ia tak akan tenang sebelum sampai kepada-Nya. Semua yang lain hanya menenangkan sebentar, lalu jarumnya bergoyang lagi.

Injil hari ini menaruh nada yang sejalan, "Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang." Berjaga bukan berarti tegang ketakutan. Ia justru bentuk lain dari kerinduan, sikap hati yang menanti pulang, yang tahu ke mana ia sedang menuju.

Maka kalau hari ini hatimu gelisah dan tak bisa diam, jangan buru-buru menambalnya dengan kesibukan atau belanja. Tanyakan dulu, jangan-jangan kegelisahan itu sedang menunjuk arah. Ke mana sebenarnya hatiku sedang mencari istirahat, dan sudahkah kucari di tempat yang benar?

Tuhan, Engkau menciptakan hatiku untuk Engkau, dan ia gelisah sampai beristirahat dalam Engkau. Arahkan kegelisahanku pulang kepada-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →