Selasa, 26 Agustus 2031
Di Bawah Pohon Ara
Kita semua pernah menilai sesuatu dari asalnya. Mana ada yang bagus dari sana, kata kita. Prasangka soal kampung, soal suku, soal sekolah, soal keluarga. Sekali label itu tertempel, susah kita lihat orangnya apa adanya.
Natanael persis begitu ketika mendengar tentang Yesus. Filipus datang bersemangat, "Kami telah menemukan Dia, Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." Dan tanggapan Natanael dingin oleh prasangka, "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" Sebuah kampung kecil yang tak diperhitungkan. Baginya, tempat itu sudah cukup jadi alasan meragukan.
Tetapi lihat apa yang terjadi ketika ia akhirnya datang. Yesus melihatnya dan berkata, "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya." Natanael terkejut, "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus, "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara."
Ada sesuatu yang menghangatkan hati di situ. Sementara Natanael masih sibuk berprasangka soal asal Yesus, Yesus sudah lebih dulu mengenal Natanael sampai ke tempat sunyinya di bawah pohon ara. Kita mengukur orang dari luar. Tuhan sudah melihat kita dari dalam, jauh sebelum kita berjumpa dengan-Nya.
Begitu merasa dikenal sedalam itu, prasangka Natanael runtuh seketika. "Rabi, Engkau Anak Allah." Kadang yang meruntuhkan tembok kita bukan argumen, melainkan pengalaman sungguh dikenal dan diterima. Adakah orang yang sudah kuhakimi dari asalnya, yang belum pernah kuberi kesempatan kukenal seperti Tuhan mengenalku?
Tuhan, Engkau mengenalku di tempatku yang paling sunyi, jauh sebelum aku mencari-Mu. Runtuhkan prasangkaku terhadap sesama, dan beri aku mata untuk melihat mereka seperti Engkau melihat aku. Amin.