Kamis, 21 Agustus 2031
Datang tapi Tak Berbaju Pesta
Siapa pun yang pernah datang ke kondangan tahu ada aturan tak tertulis soal pakaian. Bukan supaya pamer, melainkan sebagai tanda hormat kepada yang punya hajat. Datang ke pesta dengan pakaian seadanya, seolah cuma mampir, bisa melukai tuan rumah yang sudah menyiapkan segalanya.
Perumpamaan hari ini dimulai dengan undangan yang luar biasa terbuka. Para tamu terhormat menolak datang, maka raja menyuruh hamba-hambanya ke persimpangan jalan, mengundang "setiap orang yang kamu jumpai," orang baik dan orang jahat sekaligus. Ruangan pun penuh oleh tamu dari jalanan. Undangan itu cuma-cuma, tak pandang bulu, diberikan kepada siapa saja.
Tetapi ada bagian yang mengejutkan di akhir. Raja masuk dan melihat seorang tamu yang tidak mengenakan pakaian pesta. Ketika ditanya, orang itu diam saja. Lalu ia dikeluarkan. Aneh, bukan? Tamu yang lain juga datang dari jalanan, tetapi ini yang dipersoalkan.
Rupanya undangan yang cuma-cuma tetap menuntut tanggapan. Boleh masuk apa adanya, tetapi tidak boleh tetap seenaknya. Rahmat memang gratis, tetapi bukan murahan. Ia diberikan tanpa syarat, lalu meminta kita berganti pakaian, berganti hidup. Yang salah dari tamu itu bukan asal-usulnya, melainkan sikapnya yang menganggap remeh pesta itu.
Santo Pius X mendorong umat menerima Komuni lebih sering, tetapi selalu dengan hati yang dipersiapkan. Undangan ke meja Tuhan selalu terbuka, dan justru karena itu pantas kita datang dengan hormat. Apakah aku datang kepada Tuhan dengan pakaian pesta hatiku, atau sekadar mampir tanpa sungguh-sungguh?
Tuhan, terima kasih atas undangan-Mu yang terbuka bagi orang seperti aku. Dandani hatiku dengan pakaian pesta yang layak bagi meja-Mu. Amin.