‹ Semua renungan

Rabu, 20 Agustus 2031

Yang Menunggu di Perempatan

Ada pemandangan yang bisa kita lihat pagi-pagi di banyak kota. Sekumpulan orang berdiri di perempatan atau di pangkalan, menunggu ada yang datang memberi kerja. Kuli harian, siapa saja yang upahnya bergantung pada apakah hari ini ada yang memanggil. Yang paling menyakitkan bukan kerja beratnya, melainkan berdiri sampai sore tanpa ada yang memilih.

Perumpamaan hari ini lahir dari pemandangan seperti itu. Seorang tuan keluar berkali-kali mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Pagi, siang, sampai pukul lima petang. Kepada mereka yang terakhir ia bertanya, "Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?" Dan jawaban mereka memilukan, "Karena tidak ada orang mengupah kami." Bukan karena malas. Karena tidak dipilih.

Ketika upah dibagikan, yang datang pukul lima menerima sama dengan yang datang pagi. Yang bekerja seharian bersungut-sungut. Manusiawi sekali. Tetapi dengarkan jawaban tuan itu, "Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?"

Kita gampang berdiri di pihak yang bekerja sejak pagi, merasa berhak lebih. Padahal perumpamaan ini justru kabar baik bagi yang datang terlambat. Bagi yang lama tak dipilih, yang merasa sudah terlambat mendekat kepada Tuhan. Di mata-Nya, tidak ada yang datang terlalu sore untuk diberi upah penuh.

Santo Bernardus banyak menulis tentang kasih Allah yang tak dihitung dengan neraca jasa. Rahmat bukan gaji yang kita tagih, melainkan kemurahan hati yang kita terima. Aku hari ini merasa jadi pekerja pagi yang menuntut hak, atau pekerja sore yang bersyukur masih dipanggil?

Tuhan, jauhkan dari hatiku iri kepada kemurahan-Mu bagi orang lain. Ajari aku bersyukur, sebab aku pun hanya dipanggil karena Engkau murah hati. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →