Jumat, 22 Agustus 2031
Ke Mana Engkau Pergi
Hubungan menantu dan mertua sering jadi bahan guyon, kadang bahan keluhan. Ada jarak yang tak mudah dijembatani, apalagi kalau yang menyatukan mereka sudah tiada. Kisah Rut menyentuh justru di titik itu.
Naomi kehilangan suami dan kedua anaknya di negeri asing. Tinggal ia dan dua menantunya, sama-sama janda. Naomi menyuruh mereka pulang, sebab tak ada lagi yang mengikat mereka padanya. Yang seorang, Orpa, pulang. Wajar. Tetapi Rut tetap berpaut, dan berkata kalimat yang kemudian dikenang berabad-abad. "Ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi; bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku."
Perhatikan, tidak ada lagi kewajiban yang menahan Rut. Suaminya sudah mati, tak ada anak, tak ada warisan. Yang membuatnya bertahan bukan utang budi atau aturan, melainkan kasih yang memilih tinggal ketika semua alasan sudah gugur. Kasih yang lebih panjang umurnya daripada sebabnya.
Injil hari ini menaruh dua hukum terutama, mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Rut, perempuan asing dari Moab, ternyata menghidupi keduanya sekaligus. Dalam memilih Naomi, ia memilih Allah Naomi. Orang Jawa punya ungkapan mikul dhuwur mendhem jero, menjunjung tinggi dan memendam dalam, sikap memuliakan keluarga sampai menutup aibnya. Rut menjunjung mertuanya justru ketika mertuanya sudah tak punya apa-apa untuk dibalas.
Pada peringatan Santa Perawan Maria Ratu ini, kita ingat bahwa Maria pun mengikuti dengan setia sampai ke kaki salib, ketika semua alasan manusiawi menyuruh pergi. Adakah orang yang Tuhan titipkan padaku, yang layak kukasihi bukan karena menguntungkan, melainkan karena kasih itu sendiri?
Tuhan, ajari aku kasih seperti Rut, yang tetap tinggal ketika alasan sudah habis. Kasih yang memilih setia, bukan menghitung untung. Amin.