Jumat, 15 Agustus 2031
Buah Sulung dari Ladang
Petani mana pun tahu rasa panen yang pertama. Ketika seluruh sawah masih hijau dan belum pasti, ada satu tangkai yang lebih dulu menguning dan masak. Tangkai pertama itu bukan sekadar satu tangkai. Ia janji. Ia bukti bahwa seluruh ladang akan menyusul.
Hari ini Gereja merayakan Santa Perawan Maria diangkat ke surga, jiwa dan raga. Dan Paulus memberi kita kata kunci untuk memahaminya dalam bacaan kedua. "Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal." Yang sulung. Buah pertama dari sebuah panen besar. Kristus bangkit lebih dulu, dan sesudah itu, kata Paulus, "mereka yang menjadi milik-Nya."
Kalau Kristus buah sulung dari seluruh panen manusia, maka Maria adalah tangkai pertama yang menyusul-Nya masuk lumbung. Ia yang paling dekat dengan Kristus dalam hidup, kini yang pertama mengikuti-Nya sepenuhnya ke dalam kemuliaan. Bukan karena ia berbeda jenis dari kita, melainkan karena ia buah sulung dari ladang yang sama, ladang tempat kita semua ditanam.
Itulah kabar gembira pesta ini. Pengangkatan Maria bukan pengecualian yang jauh dari kita, melainkan gambar awal dari nasib yang dijanjikan bagi seluruh ladang. Tubuh manusia, tubuh yang menua dan capek dan sakit, ternyata punya masa depan. Bukan dibuang, melainkan dituai dan dimuliakan.
Injil hari ini menunjukkan tangkai itu ketika masih di ladang, masih hijau dan bekerja. Maria yang baru mengandung tidak duduk memandangi keistimewaannya. Ia "berangkat dan langsung berjalan ke pegunungan" untuk melayani Elisabet yang juga mengandung di usia tua. Buah sulung itu adalah perempuan yang bergegas menolong, yang menyanyikan Allah yang meninggikan orang-orang yang rendah.
Wahyu melengkapinya dengan gambar di langit. Perempuan berselubungkan matahari, melahirkan di depan naga yang siap menelan, tetapi tidak tertelan. Kerapuhan yang dijaga Allah selalu lebih kuat daripada kuasa yang mengancamnya.
Maka pesta ini sebenarnya tentang kita juga. Panen sudah dimulai. Buah sulungnya sudah di lumbung. Kita tangkai-tangkai yang masih di ladang, masih ditempa hujan dan panas, tetapi ditanam untuk lumbung yang sama. Kalau begitu, apakah aku hidup seperti gandum yang sedang dimasakkan untuk surga, atau seperti yang lupa bahwa panen sedang datang?
Bunda Maria, buah sulung yang telah sampai di lumbung Bapa, teguhkan kami yang masih di ladang. Supaya kami masak dalam iman dan kasih, dan menyusul-Mu pada waktu panen. Amin.