‹ Semua renungan

Rabu, 13 Agustus 2031

Melihat dari Seberang

Ada pekerjaan yang kita mulai tetapi tidak kita nikmati hasilnya. Menanam pohon yang naungannya baru akan dirasakan cucu. Merawat sesuatu yang buahnya dipetik orang lain, entah kapan. Musa mengalami bentuk yang paling berat dari itu.

Empat puluh tahun ia memimpin bangsa yang keras kepala keluar dari perbudakan menuju tanah yang dijanjikan. Ia menanggung keluhan mereka, menengahi kemarahan Tuhan, berjalan di padang gurun tanpa lelah. Dan di ujung perjalanan, ia dibawa naik ke puncak Nebo. Dari situ Tuhan memperlihatkan seluruh negeri itu. "Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana."

Ia melihat tanah itu, tetapi tidak menginjaknya. Ia menghantar bangsanya sampai ke ambang pintu, lalu mati di seberang. Catatan itu menambahkan hal yang mengharukan. "Matanya belum kabur dan kekuatannya belum hilang." Ia masih kuat, masih sanggup, tetapi tugasnya memang hanya sampai di situ.

Ada kerendahan hati yang dalam di situ. Menerima bahwa kita bukan penyelesai segala hal. Bahwa kita mungkin hanya diminta membawa sesuatu sampai setengah jalan, lalu menyerahkannya kepada Yosua-Yosua berikutnya. Bukan kita yang harus memetik semua buah.

Barangkali itu ujian bagi setiap orang tua, guru, dan pemimpin. Sanggupkah kita bekerja sungguh-sungguh untuk panen yang mungkin tak sempat kita lihat? Adakah sesuatu yang kukerjakan hari ini bukan untuk kunikmati sendiri, melainkan untuk mereka yang datang setelahku?

Tuhan, ajari aku setia mengerjakan bagianku, meski hasilnya baru dipetik orang lain. Cukupkan bagiku melihat tanah itu dari seberang, asal umat-Mu sampai. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →