Selasa, 12 Agustus 2031
Benih yang Disimpan di Toples
Coba simpan sebutir benih baik-baik di dalam toples. Kau jaga supaya tidak lembap, tidak dimakan tikus, tidak hilang. Setahun kemudian kau buka. Ia masih ada, utuh, tetapi tetap satu butir. Benih yang paling aman justru benih yang paling sia-sia.
Yesus memakai gambar ini. "Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah." Hukum benih memang terbalik dari naluri kita. Yang kita genggam erat, mengering. Yang kita relakan jatuh dan hilang, justru berbuah.
Paulus berbicara tentang hal yang sama dengan bahasa memberi. "Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga." Dan ia menambahkan syaratnya, "Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." Bukan sekadar memberi, melainkan memberi tanpa menghitung balasan. Orang Jawa menyebutnya sepi ing pamrih, sunyi dari pamrih, berbuat baik tanpa diam-diam menanti imbalan.
Di situ letak ujiannya. Kita mudah memberi kalau tahu akan dibalas. Kita menabur kalau yakin akan menuai untuk diri sendiri. Tetapi benih hanya berbuah kalau sungguh dilepaskan, ditanam dalam tanah, bukan disimpan dalam toples.
Apa yang selama ini kugenggam terlalu erat karena takut kehilangan? Waktu, tenaga, kasih, uang. Jangan-jangan justru itu yang tak pernah berbuah, karena tak pernah kutanam. Adakah satu benih yang hari ini berani kulepaskan?
Tuhan, lepaskan genggamanku yang terlalu erat. Ajari aku menanam, bukan menimbun, dan memberi tanpa diam-diam menghitung balasannya. Amin.