Minggu, 10 Agustus 2031
Iman yang Tinggal di Kemah
Ada orang yang tinggal bertahun di sebuah rumah tetapi kopornya tak pernah benar-benar dibongkar. Selalu setengah siap berangkat. Bukan karena tak betah, melainkan karena tahu tempat itu bukan tujuan akhir. Begitulah cara para beriman dalam Kitab Suci menjalani hidup.
Surat Ibrani memberi kita rumusan iman yang indah. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." Lalu ia menunjuk Abraham. Ketika dipanggil, Abraham berangkat "dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui." Ia pergi tanpa tahu ke mana. Iman baginya bukan peta yang lengkap, melainkan kepercayaan pada yang memanggil.
Dan setelah sampai di tanah yang dijanjikan pun, ia tinggal di kemah. Bukan rumah batu yang megah, melainkan tenda yang gampang dibongkar dan dipindah. Surat itu menjelaskan alasannya. Ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang dirancang dan dibangun oleh Allah. Ia tahu tanah itu pun belum rumah sejatinya.
Ibrani menyebut mereka semua "orang asing dan pendatang di bumi ini." Bukan karena tak punya tempat, melainkan karena hati mereka merindukan tanah air yang lebih baik, yang surgawi. Mereka hidup seperti musafir yang tak pernah sepenuhnya membongkar kopor. Kitab Kebijaksanaan dalam bacaan pertama mengenang malam pembebasan dari Mesir, malam ketika nenek moyang berdiri dengan pinggang berikat, siap berangkat begitu tanda diberikan. Iman memang lahir dari orang-orang yang berani melangkah sebelum jalannya kelihatan jelas.
Injil hari ini melengkapinya dengan nada mendesak. "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala." Seperti hamba yang menanti tuannya pulang, siap membuka pintu kapan saja ia datang. Bukan tegang ketakutan, melainkan berjaga penuh harap.
Di sinilah iman dan cara hidup bertemu. "Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." Kalau seluruh harta kita tertanam di sini, hati kita akan berat dan susah diajak berangkat. Tetapi kalau harta kita di surga yang tidak dapat didekati pencuri, langkah kita jadi ringan.
Bukan berarti kita meremehkan rumah, pekerjaan, atau keluarga yang Tuhan titipkan. Itu semua kita cintai dan rawat. Tetapi kita merawatnya sebagai penumpang yang tahu diri, bukan sebagai pemilik yang mengira akan tinggal selamanya. Kalau hidup ini kemah, apa yang masih kupaku terlalu kuat ke tanah, sampai aku takut diajak berangkat?
Tuhan, jadikan hatiku hati seorang musafir. Cukup mencintai dunia untuk merawatnya, tetapi cukup lepas untuk selalu siap berangkat kepada-Mu. Amin.