‹ Semua renungan

Kamis, 31 Juli 2031

Bergerak Saat Awan Bergerak

Orang yang berjalan dalam rombongan besar tahu satu aturan penting: jangan bergerak sendiri-sendiri. Semua menunggu aba-aba pemandu. Kalau pemandu berhenti, semua berhenti. Kalau ia melangkah, barulah semua ikut melangkah.

Begitulah Israel dituntun sepanjang perjalanan di padang gurun. Sesudah Kemah Suci selesai didirikan, awan menutupinya pada siang hari dan api menyala di dalamnya pada malam hari. Dan inilah patokannya: "Apabila awan itu naik dari atas Kemah Suci, berangkatlah orang Israel. Tetapi jika awan itu tidak naik, maka merekapun tidak berangkat."

Mereka tidak berjalan menurut jadwal sendiri, juga tidak berhenti seenaknya. Berangkat dan tinggal, keduanya diatur oleh gerak Tuhan. Iman ternyata bukan hanya soal berani melangkah, melainkan juga soal peka membaca kapan Tuhan bergerak dan kapan Ia menyuruh menunggu.

Santo Ignasius dari Loyola, yang kita peringati hari ini, justru mengajarkan seni ini: membedakan gerak Roh di dalam hati. Ia menyebutnya membaca penghiburan dan kegersangan, supaya kita tidak asal jalan mengikuti keinginan sendiri, melainkan mengikuti ke mana awan ilahi menuntun.

Betapa sering kita tergesa berangkat sebelum awan naik, atau berkeras diam padahal Tuhan sudah mengajak melangkah.

Hari ini, ke mana awan itu sedang bergerak dalam hidup kita? Berhentilah sebentar, dan bacalah baik-baik sebelum melangkah.

Tuhan, ajarilah aku membaca gerak-Mu: berangkat ketika Engkau berangkat, tinggal ketika Engkau menyuruh menunggu. Jadikanlah hidupku mengikuti awan hadirat-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →