Rabu, 30 Juli 2031
Tidak Tahu Wajahnya Bercahaya
Ada orang yang baru saja mengalami sesuatu yang membahagiakan, lalu wajahnya berseri tanpa ia sadari. Orang lain yang melihat langsung bertanya, "Habis dari mana? Kok wajahnya beda?" Ia sendiri sering tidak tahu bahwa dirinya sedang sumringah, berbinar.
Begitulah Musa turun dari gunung sesudah lama berbicara dengan Tuhan. "Tidaklah ia tahu, bahwa kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN." Ia tidak berdiri di depan cermin mengagumi wajahnya. Justru orang lain, Harun dan seluruh Israel, yang melihat cahaya itu sampai mereka takut mendekat.
Inilah tanda perjumpaan yang sejati dengan Allah: ia memancar keluar tanpa si empunya menyadarinya. Orang yang sungguh dekat dengan Tuhan biasanya bukan orang yang sibuk merasa suci. Ia hanya menjadi bercahaya, dan yang menikmati cahayanya adalah orang-orang di sekitarnya.
Sebaliknya, cahaya yang dipamerkan dan dihitung sendiri biasanya bukan cahaya sejati, melainkan lampu sorot yang diarahkan ke diri sendiri.
Kita tidak bisa memaksa wajah kita bercahaya. Yang bisa kita lakukan hanyalah sering-sering naik ke gunung, berlama-lama di hadapan Tuhan. Soal cahayanya, biarlah itu urusan-Nya, dan biarlah orang lain yang merasakannya.
Sudahkah kita menyediakan waktu yang cukup lama bersama Dia, sampai tanpa sadar ada yang memancar?
Tuhan, aku tidak ingin sibuk merasa bercahaya. Aku hanya ingin cukup lama bersama-Mu, sampai kasih-Mu memancar tanpa kusadari dan menghangatkan orang di sekitarku. Amin.