‹ Semua renungan

Minggu, 6 Juli 2031

Namamu Terdaftar

Pulang kerja, seorang anak kecil berlari menyambut ayahnya sambil berteriak bukan tentang nilai atau prestasi, melainkan satu hal: "Ayah pulang!" Sukacitanya bukan karena ia berhasil apa-apa hari itu. Sukacitanya karena ada yang datang dan ada yang memiliki dia.

Injil hari ini menyentuh titik yang sama. Yesus mengutus tujuh puluh murid berdua-dua, seperti anak domba ke tengah serigala, tanpa pundi dan tanpa bekal. Mereka kembali dengan wajah berseri: "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu!" Sebuah laporan keberhasilan yang menggetarkan.

Tetapi Yesus meluruskan sumber sukacita mereka. "Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga." Ada pergeseran halus di situ, dari apa yang kita kerjakan kepada siapa yang memiliki kita. Setan yang takluk hari ini bisa jadi tidak takluk besok. Tetapi nama yang terdaftar di sorga tidak dicoret oleh naik turunnya prestasi.

Betapa perlunya kita mendengar ini. Zaman kita mengukur orang dari hasil: angka, pencapaian, jumlah pengikut. Diam-diam kita pun membawa cara ukur itu ke hadapan Tuhan, seakan kasih-Nya harus dilunasi dengan keberhasilan kita.

Bacaan pertama menawarkan gambar yang lain sama sekali. Lewat Yesaya, Tuhan berbicara dengan bahasa seorang ibu: kamu akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan. "Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu." Di pangkuan ibu, seorang bayi tidak diminta berprestasi. Ia cukup ada, dan itu sudah membuatnya dikasihi.

Paulus menutup benang ini dari sisinya sendiri. Ia menolak bermegah atas apa pun, kecuali salib Tuhan. Segala pencapaiannya, dan ia punya banyak, tidak lagi ia hitung. Yang tinggal hanya satu kebanggaan: menjadi milik Kristus, ditandai pada tubuhnya.

Maka pergilah bekerja, layanilah, tuailah ladang yang luas ini. Tuaian memang banyak dan pekerja sedikit. Tetapi jangan biarkan sukacitamu naik turun mengikuti hasil panen. Ada sukacita yang lebih dalam dan lebih tenang: namamu sudah tertulis di sana, oleh tangan yang menggendongmu sejak semula.

Perhatikan pula, Yesus mengutus mereka berdua-dua, bukan sendiri-sendiri. Sukacita yang sehat memang selalu punya teman untuk dibagi, dan pekerjaan Tuhan tidak pernah dimaksudkan menjadi prestasi seorang diri. Kita berjalan bersama, saling menguatkan ketika lelah, saling mengingatkan ketika mulai membanggakan hasil.

Sesibuk apa pun kita pekan ini, dan seberapa pun sepi atau ramai panen kita, pulanglah setiap malam pada kepastian itu: kita dikasihi bukan karena berhasil, melainkan karena kita milik-Nya.

Bapa, ajarilah aku bersukacita bukan karena hasil kerjaku, melainkan karena aku milik-Mu dan namaku terdaftar pada-Mu. Gendonglah aku seperti ibu menggendong anaknya. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →