Rabu, 25 Juni 2031
Dicicipi, Bukan Ditimbang
Di pasar buah, pembeli yang berpengalaman tidak percaya pada bungkus yang cantik. Ia mencium, menekan pelan, kadang minta dibelah sedikit. Sebab warna kulit bisa menipu, tetapi rasa tidak. Buah selalu membuka rahasia pohonnya.
Yesus memakai kebijaksanaan pasar itu untuk soal yang jauh lebih serius. “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu,” kata-Nya, yang datang menyamar seperti domba tetapi sesungguhnya serigala. Bagaimana mengenali mereka? Bukan dari jubah, bukan dari kefasihan berbicara, melainkan dari buahnya. “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” Pohon yang baik menghasilkan buah yang baik; yang tidak baik tak mungkin memberi buah yang baik.
Ini ujian yang merepotkan, sebab buah butuh waktu dan musim. Kita tidak bisa menilai pohon dalam semalam. Orang bisa berkhotbah indah, tampil rohani, memikat banyak orang, dan baru bertahun kemudian ketahuan buahnya: apakah ia menumbuhkan kasih dan kejujuran, atau justru kepahitan dan perpecahan.
Bacaan pertama menunjukkan buah yang paling mendasar, iman. Di malam yang gelap, Abram diajak keluar memandang langit dan disuruh percaya bahwa keturunannya akan sebanyak bintang, padahal ia masih tak beranak. “Lalu percayalah Abram kepada Tuhan, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Dari akar iman itulah nanti tumbuh seluruh bangsa.
Ujian buah berlaku juga bagi kita, bukan hanya bagi nabi palsu di luar sana. Kalau hidup kita dicicipi orang lain hari ini, rasa apa yang mereka temukan?
Tuhan, akarkanlah aku dalam iman seperti Abram, supaya hidupku menghasilkan buah yang manis bagi sesama. Amin.