‹ Semua renungan

Kamis, 26 Juni 2031

Ketika Kerja Terasa Sia-sia

Ada rasa lelah yang khas, yang datang bukan karena terlalu banyak bekerja, melainkan karena merasa semua kerja itu percuma. Guru yang muridnya tak kunjung berubah. Orang tua yang nasihatnya seperti angin lalu. Pelayan yang tahun demi tahun mengurus umat, lalu diam-diam bertanya, adakah gunanya semua ini?

Ternyata perasaan itu bukan hal baru, dan bukan tanda iman yang lemah. Dengarlah sang hamba dalam Nabi Yesaya, tokoh yang justru dipanggil sejak dari kandungan: “Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna.” Orang pilihan Allah pun bisa merasa hasilnya nol. Yang membedakan bukan bahwa ia tak pernah kecewa, melainkan ke mana kekecewaan itu ia bawa. Ia melanjutkan, “namun, hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allahku.”

Di situlah letak peralihannya. Sang hamba berhenti mengukur hasil dengan matanya sendiri, dan menyerahkan perhitungan kepada Allah. Ia tidak menuntut melihat panen; cukup baginya bahwa Tuhan mencatat.

Dan Allah menjawab dengan memperluas, bukan mengecilkan, tugas itu: “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku. Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa.” Kerja yang dikira sia-sia justru sedang disiapkan untuk buah yang jauh lebih besar dari yang dibayangkan.

Injil mengenang Yohanes yang bertahun-tahun tersembunyi di padang gurun sebelum tampil. Persiapan yang panjang dan sunyi bukan pemborosan waktu di mata Allah.

Tuhan, ketika kerjaku terasa sia-sia, ingatkan aku bahwa upahku ada pada-Mu, dan teruskanlah aku melayani. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →