Minggu, 13 April 2031
Diringkas dalam Satu Kalimat
Kalau seseorang meninggal, di batu nisannya hanya muat beberapa kata. Seluruh hidup, dengan segala suka dan dukanya, harus diringkas dalam satu kalimat pendek. Itu latihan yang menakutkan. Seandainya hidup kita harus dirangkum dalam satu baris saja, kira-kira apa yang akan tertulis di sana?
Hari ini, di pagi Paskah, Petrus berdiri dan meringkas seluruh hidup Yesus dalam satu kalimat yang sederhana. Ia berkata tentang Yesus dari Nazaret, 'Dia berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis.' Itulah ringkasan hidup Tuhan. Bukan daftar mukjizat yang panjang, bukan gelar yang megah. Ia berjalan berkeliling, dan di mana pun Ia lewat, Ia berbuat baik.
Lalu Petrus melanjutkan pada bagian yang mengubah segalanya. Mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib, tetapi Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga. Di sinilah letak kabar Paskah. Allah membangkitkan justru Dia yang seumur hidup berbuat baik lalu dibunuh. Kebangkitan adalah cara Allah berkata Amin atas hidup yang penuh kebaikan itu. Seolah Bapa berkata, jalan yang ditempuh Anak-Ku ini benar, maka maut tidak berhak menahan-Nya.
Injil hari ini melukiskan pagi yang sibuk. Maria Magdalena berlari, Petrus dan murid yang lain berlari, kubur ditemukan kosong. Belum ada yang benar-benar mengerti. Tetapi kubur yang kosong itu adalah tanda bahwa hidup yang baik tidak berakhir sia-sia di dalam tanah. Ia dibangkitkan.
Rasul Paulus menarik akibatnya sampai kepada kita. 'Kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas.' Kebangkitan bukan hanya peristiwa yang terjadi pada Yesus dua ribu tahun lalu. Ia menjadi arah baru bagi hidup kita. Kepala kita diangkat, pandangan kita diarahkan ke atas, dan langkah kita, seperti langkah Guru kita, diajak berkeliling sambil berbuat baik.
Sebab pada akhirnya, ringkasan hidup Yesus itu juga menjadi undangan. Bukan mustahil kalimat yang sama tertulis atas hidup kita, bahwa kita pun pernah berjalan di dunia ini sambil berbuat baik, karena kita percaya bahwa maut bukan kata terakhir.
Perhatikan juga bahwa Petrus menyebut para saksi sebagai orang yang makan dan minum bersama Yesus sesudah Ia bangkit. Sekali lagi hal sederhana menjadi bukti. Bukan penglihatan yang megah, melainkan meja makan bersama. Kebangkitan itu nyata, sampai bisa dibagikan dalam sepiring makanan.
Bila hidup kita diringkas hari ini, adakah kata berbuat baik cukup pantas ada di dalamnya?
Tuhan yang bangkit, jadikan hidupku sebuah perjalanan berbuat baik, sebab aku percaya Engkau telah mengalahkan maut. Aleluya, Amin.