‹ Semua renungan

Senin, 14 April 2031

Takut dan Gembira Sekaligus

Perasaan manusia jarang datang satu-satu. Sering justru bercampur, bahkan yang tampak bertentangan. Seorang pengantin bisa menangis dan tertawa dalam satu tarikan napas. Orang yang lama merantau, ketika akhirnya melihat kampung halaman, gemetar antara rindu dan takut. Hati kita ternyata cukup luas untuk menampung dua rasa sekaligus.

Injil hari ini melukiskannya dengan tepat. Para perempuan meninggalkan kubur yang kosong itu 'dengan takut dan dengan sukacita yang besar.' Perhatikan, keduanya hadir bersama. Takut, karena mereka baru saja berhadapan dengan sesuatu yang jauh melampaui akal, malaikat, kubur terbuka, kabar bahwa Dia hidup. Gembira, karena kabar itu adalah kabar terindah yang pernah mereka dengar. Mereka berlari, dan kedua rasa itu berlari bersama mereka.

Lalu di tengah jalan, Yesus sendiri menjumpai mereka dengan satu sapaan sederhana, 'Salam bagimu.' Mereka mendekat, memeluk kaki-Nya, dan menyembah. Kata pertama Yesus adalah kata yang paling sering diucapkan-Nya sesudah bangkit, 'Jangan takut.' Bukan berarti takut itu salah. Ia hanya tidak boleh menjadi tuan atas hati mereka. Sukacita yang diberikan-Nya lebih besar daripada ketakutan mereka.

Bandingkan dengan reaksi para penjaga dalam kisah yang sama. Mereka juga menyaksikan hal yang dahsyat, tetapi bagi mereka rasa takut itu tidak berujung pada sukacita, melainkan pada dusta yang dibayar dengan uang. Peristiwa yang sama bisa melahirkan penyembahan pada yang satu dan kebohongan pada yang lain. Yang membedakan bukan besarnya mukjizat, melainkan hati yang menerimanya.

Dalam bacaan pertama, Petrus berdiri dan dengan berani memberitakan Yesus yang bangkit. Rasa takutnya di malam penyangkalan telah berubah menjadi keberanian. Rupanya sukacita Paskah memang begitu, ia tidak menghapus rasa takut seketika, melainkan pelan-pelan membuatnya tunduk.

Perhatikan juga apa yang Yesus perintahkan sesudah menyapa mereka. Bukan menyuruh mereka tinggal dan menyimpan sukacita itu untuk diri sendiri. Ia berkata, pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku. Sukacita Paskah memang tidak dimaksudkan untuk dipeluk sendirian. Ia diberikan supaya dibagikan, sampai rasa takut yang tersisa larut dalam tugas mewartakan.

Kita pun sering berdiri di persimpangan dua rasa. Iman menawarkan sesuatu yang begitu besar sampai terasa menakutkan sekaligus menggembirakan. Yang penting bukan menyingkirkan rasa takut, melainkan membiarkan sukacita Tuhan yang memegang kemudi.

Di antara takut dan gembira yang bercampur dalam hati kita, mana yang kita izinkan menjadi tuan?

Tuhan yang bangkit, ketika hatiku bercampur takut dan gembira, biarlah sukacita-Mu yang lebih besar memegang kendali. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →