‹ Semua renungan

Selasa, 8 April 2031

Hari Sudah Malam

Ada kalimat pendek dalam Injil hari ini yang mudah terlewat, tetapi begitu diperhatikan, terasa berat. Setelah Yudas menerima roti dari tangan Yesus lalu pergi, Yohanes menutup dengan lima kata, 'Pada waktu itu hari sudah malam.' Kalimat itu bukan sekadar keterangan waktu. Ia keterangan hati.

Kita tahu rasanya malam. Ketika lampu padam dan sekeliling gelap, benda-benda yang tadinya jelas menjadi samar. Kita meraba-raba. Kita mudah tersandung. Malam adalah waktu ketika orang paling gampang tersesat, bukan hanya di jalan, melainkan juga di dalam hati.

Yudas melangkah keluar, dan bersama langkahnya malam pun masuk. Ia meninggalkan meja tempat terang berada, menuju kegelapan yang ia pilih sendiri. Yang menyedihkan, semua itu terjadi tepat setelah Yesus menyuapinya roti, tanda persahabatan yang paling lembut. Kasih ditawarkan, tetapi ditolak. Terang diulurkan, tetapi malam lebih dipilih.

Di meja yang sama, ada Petrus. Ia begitu percaya diri, 'Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu.' Tetapi Yesus tahu, sebelum ayam berkokok, Petrus akan menyangkal tiga kali. Dua murid, dua kegagalan. Namun ada bedanya. Yudas berjalan ke dalam malam dan tidak kembali. Petrus jatuh di dalam malam, lalu menangis, lalu pulang.

Bacaan pertama memberi kita pegangan. Hamba Tuhan berkata, aku telah bersusah-susah dengan percuma, namun ia menutup dengan iman, hakku terjamin pada TUHAN. Bahkan ketika segala usaha terasa sia-sia dan hari menjadi gelap, ada sesuatu yang tetap terjamin di tangan Allah.

Yang menghibur, Yesus tidak dikejutkan oleh malam itu. Ia tahu Yudas akan pergi, tahu Petrus akan menyangkal, dan tetap menyuapi keduanya dengan roti. Kasih-Nya tidak menunggu kita sempurna dulu. Ia mengasihi kita sampai kesudahannya, bahkan ketika Ia tahu kita akan mengecewakan-Nya. Terang itu tetap menyala di meja, sabar menunggu siapa pun yang mau kembali dari gelapnya. Itulah kesabaran yang membuat kita selalu berani pulang.

Kita semua punya malam-malam sendiri. Saat iman meredup, saat kita melangkah ke arah yang kita tahu keliru. Pertanyaannya bukan apakah kita pernah masuk ke dalam gelap, melainkan apakah kita mau berbalik dan pulang, atau terus berjalan menjauh.

Ketika hari menjadi malam dalam hidup kita, ke arah manakah kaki kita melangkah, keluar dari terang atau kembali kepadanya?

Tuhan, bila aku tersesat dalam malamku sendiri, jangan biarkan aku terus berjalan menjauh. Panggil aku pulang. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →