Rabu, 9 April 2031
Harga Sebuah Pengkhianatan
Segala sesuatu di pasar punya harga. Beras, ikan, sayur, semua bisa ditimbang dan diberi angka. Kita terbiasa dengan dunia yang mengukur nilai dengan uang. Masalahnya mulai ketika kita memakai cara yang sama untuk menilai hal-hal yang sebenarnya tak ternilai. Persahabatan. Kepercayaan. Nurani.
Yudas datang kepada imam-imam kepala dengan satu pertanyaan dingin, 'Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia?' Mereka menimbang tiga puluh uang perak. Angka itu bukan sembarang angka. Dalam hukum Taurat, tiga puluh syikal adalah harga ganti rugi untuk seorang budak yang mati tertanduk lembu. Itulah harga yang dipatok untuk Guru yang telah berjalan bersamanya tiga tahun. Harga seorang budak.
Yang mengerikan dari kisah ini bukan besarnya angka, melainkan bahwa cinta bisa diberi angka sama sekali. Begitu sesuatu yang tak ternilai kita beri label harga, kita sudah kehilangan dia, bahkan sebelum uang berpindah tangan.
Bandingkan dengan Hamba Tuhan dalam bacaan pertama. 'Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku.' Di sini tidak ada tawar-menawar. Yudas menjual demi memperoleh. Sang Hamba memberi tanpa menuntut kembali. Yang satu menghitung untung, yang lain menyerahkan diri.
Di meja perjamuan, ketika Yesus berkata seorang akan menyerahkan Dia, para murid bertanya dengan sedih, 'Bukan aku, ya Tuhan?' Yudas pun ikut bertanya, tetapi dengan sebutan yang berbeda, 'Bukan aku, ya Rabi?' Hanya sebutan, tetapi mengungkap jarak hati. Bagi yang lain Ia Tuhan. Bagi Yudas Ia tinggal seorang Rabi, seorang guru biasa yang bisa dilepas dengan harga tertentu.
Sesudah semuanya terjadi, Injil lain mencatat bahwa Yudas menyesal dan mencampakkan kembali ketiga puluh keping itu. Ternyata harga yang tadinya tampak menggiurkan tidak sanggup menutup lubang di hatinya. Uang itu kembali, tetapi damai tidak. Itulah yang selalu terjadi ketika kita menukar sesuatu yang tak ternilai dengan yang murah. Kita mendapat bayaran, tetapi kehilangan diri sendiri.
Kita jarang mengkhianati sekaligus. Biasanya bertahap. Mula-mula kita menurunkan nilai seseorang di hati kita, memberinya label, lalu merasa wajar melepaskannya demi keuntungan kecil. Kesetiaan pun terkikis sedikit demi sedikit, tanpa terasa.
Adakah sesuatu yang tak ternilai, kesetiaan atau nurani, yang diam-diam sedang kita tawar demi keuntungan sesaat?
Tuhan, jagai hatiku agar tidak pernah memberi angka pada hal-hal yang Kaupandang tak ternilai. Amin.