‹ Semua renungan

Senin, 7 April 2031

Wangi yang Tak Bisa Ditarik Kembali

Ada hal-hal yang begitu dilakukan, tidak bisa ditarik kembali. Kata yang telanjur terucap. Kaca yang telanjur pecah. Dan minyak wangi yang telanjur ditumpahkan. Begitu botol narwastu itu terbuka dan tumpah ke kaki Yesus, tidak ada cara mengembalikannya ke dalam botol. Wanginya sudah memenuhi seluruh rumah, dan tidak seorang pun bisa memungutnya lagi.

Maria melakukannya tanpa perhitungan. Setengah kati narwastu murni, seharga upah kerja hampir setahun, habis dalam sekejap di kaki seorang Guru. Bagi Yudas, itu pemborosan. Mengapa minyak ini tidak dijual tiga ratus dinar dan diberikan kepada orang miskin, katanya. Pertanyaannya terdengar saleh, tetapi Yohanes membuka rahasianya, ia berkata begitu bukan karena peduli pada orang miskin.

Di sinilah dua cara memandang hidup berhadapan. Yudas menghitung. Maria mencurahkan. Yang satu melihat angka, yang lain melihat pribadi. Cinta yang sejati memang sering tampak boros di mata orang yang terbiasa menghitung. Seorang ibu yang begadang semalaman menunggui anak sakit tidak sedang menghitung jam. Ia hanya mencurahkan.

Bacaan pertama melukiskan Hamba Tuhan yang lembut. 'Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya.' Kelembutan Maria kepada Yesus adalah pantulan kecil dari kelembutan Yesus kepada dunia. Ia tidak mematahkan yang sudah retak. Ia tidak memadamkan nyala yang tinggal sedikit.

Yesus membela perbuatan Maria dengan kalimat yang menyayat, 'Biarkanlah dia, ia melakukannya mengingat hari penguburan-Ku.' Maria seolah tahu bahwa waktu bersama Yesus tinggal sedikit. Ia tidak menunda cintanya sampai nanti. Ia mencurahkannya sekarang, mumpung Yesus masih ada.

Sering kita menyimpan kasih untuk waktu yang kita kira lebih tepat. Kita menunda mengunjungi, menunda memaafkan, menunda mengucap terima kasih. Padahal ada wangi yang hanya bisa memenuhi rumah bila botolnya kita berani pecahkan hari ini.

Menariknya, wangi itu tidak hanya menyentuh Yesus. Yohanes mencatat bau minyak semerbak di seluruh rumah itu. Satu perbuatan kasih yang tulus jarang berhenti pada satu orang. Ia mengambang, mengisi ruang, menyentuh siapa saja yang kebetulan ada di dekatnya. Begitulah kebaikan yang lahir dari hati yang mengasihi. Ia menular tanpa direncanakan, memberi wangi bahkan pada mereka yang tidak kita tuju.

Adakah kasih yang kita tahan-tahan, menunggu saat yang lebih murah, padahal Tuhan meminta kita mencurahkannya sekarang?

Tuhan, ajarilah aku mencintai tanpa menghitung, dan tidak menunda kebaikan yang bisa kulakukan hari ini. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →