‹ Semua renungan

Jumat, 28 Februari 2031

Lapar yang Membebaskan

Ada orang yang berpuasa tetapi seisi rumah kena getahnya. Wajah masam, mudah tersinggung, kerja seenaknya. Lapar di perut, panas di kepala. Puasa macam itu berhasil menahan makan, tetapi tidak mengubah apa-apa.

Umat pada zaman Yesaya pernah mengeluh: mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya? Jawaban Allah pedas: pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu dan mendesak-desak semua buruhmu. Kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi.

Lalu Allah membeberkan puasa yang dikehendaki-Nya: membuka belenggu-belenggu kelaliman, memerdekakan orang yang teraniaya, memecah-mecah roti bagi yang lapar, membawa pulang orang miskin yang tidak berumah, memberi pakaian kepada yang telanjang. Puasa sejati selalu mengalir keluar. Yang kita hemat dari piring sendiri berpindah ke piring orang lain.

Injil menambahkan alasannya yang paling dalam. Murid-murid akan berpuasa ketika Mempelai itu diambil dari mereka: puasa orang Kristen adalah rindu kepada Sang Mempelai. Kita mengosongkan diri bukan demi angka timbangan, melainkan demi memberi tempat bagi Dia dan bagi sesama.

Maka ukurlah puasa kita bukan dari kerasnya lapar, melainkan dari siapa yang tertolong olehnya.

Tuhan, jadikanlah laparku doa, dan hematku berkat bagi mereka yang lapar sungguhan. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →