Kamis, 20 Februari 2031
Tombol Tunda
Alarm berbunyi jam empat pagi. Tangan kita hafal jalannya: tombol tunda. Lima menit lagi. Lima menit berikutnya. Tahu-tahu matahari sudah tinggi, dan rencana pagi itu batal seluruhnya.
Sirakh mengenali tombol itu dalam hidup rohani. Jangan menunda-nunda berbalik kepada Tuhan, tulisnya, jangan kautangguhkan dari hari ke hari. Ia bahkan membongkar kalimat yang sering kita pakai sebagai bantal: belas kasihan-Nya besar, dosaku yang banyak ini pasti diampuni-Nya.
Pengampunan Allah memang tidak terbatas. Yang terbatas adalah waktu kita. Menunda tobat sambil mengandalkan kemurahan Tuhan sama saja menghina kemurahan itu: memakainya bukan sebagai pintu untuk pulang, melainkan sebagai izin untuk tersesat lebih lama.
Pekan depan Rabu Abu tiba dan Prapaskah dimulai. Bacaan hari ini seperti alarm yang sengaja dibunyikan lebih awal. Ada kebiasaan yang sudah lama kita tahu harus diakhiri. Ada permintaan maaf yang bertahun-tahun tertunda. Ada doa yang selalu dijadwalkan untuk besok.
Kali ini, jangan tekan tombol tunda.
Tuhan yang panjang sabar, bangunkanlah aku hari ini juga, sebelum aku terbiasa tidur dalam dosaku. Amin.